Follow Us @soratemplates

Friday, 27 May 2022

Sosial di Masa Tua

20:30 0 Comments



Kemarin siang seorang tetangga datang ke rumah. Beberapa hari ini ibu memang sedang tidak enak badan. Karenanya, tetangga itu ke rumah untuk melihat keadaan ibu. Sempat terdengar obrolan beliau berdua. Salah satunya tentang betapa di usia tua hanya sendirian saja dan tak ada teman bicara.


Ketika akhirnya saya keluar kamar dan menemui beliau, ibu tetangga itu berkata, "Ngapunten mbak, ngobrol-ngobrol kaliyan ibu niki. Lha jenengan niku kan tiyang mendel mawon. Kados mantu kula nggih ngoten niku. Nek ora ditutuk ora metu suarane," (Maaf mbak, ngobrol-ngobrol sama ibu ini. Soalnya kamu itu kan orangnya diam saja. Seperti menantuku juga begitu. Kalau tidak 'dipukul'--diajak bicara--ga keluar suaranya)


Hm..., saya hanya tersenyum saja.


Padahal beberapa jam sebelumnya, saya sedang membahas dengan mentor saya di kelas bunda cekatan. Saya bercerita bagaimana saya sangat tertutup hingga tidak terbiasa bercakap-cakap bahkan dengan keluarga terdekat. Entah apakah karena memang dasarnya saya pendiam dan tidak cerewet, atau saya kurang terbiasa basa-basi, atau memang karena saya tak bisa membangun komunikasi?


Kita pasti tahu betul kalau manusia adalah makhluk sosial. Kita butuh berinteraksi dengan orang lain, membaur dengan yang lain, dan tak bisa sendirian karena saling membutuhkan. Terlebih lagi ditambah embel-embel kami kaum wanita butuh mengeluarkan dua puluh ribu kata tiap harinya. Seolah-olah memang harus bersosialisasi. Hanya saja sosial yang dimaksud di sini seperti apa? Apakah di era modern sekarang ini makna sosial bergeser ke sosial media?


Bukan satu dua orang yang mengalami ini. Mungkin saja ada orang yang aktif di media sosial, tapi di kehidupan nyata tidak terlihat gaungnya. Dia butuh sesuatu, langaung mencari info dengan berselancar di dunia maya. Dia butuh interaksi, langsung membuat akun dan komentar atau chat di sana-sini. Namun di kehidupan nyatanya tidak demikian. Mungkin dia akan tetap di dalam rumah karena sibuk bersosialisasi dengan dunia yang ada dalam genggamannya. Maka apakah orang seperti ini akan disebut sebagai pendiam yang tak biasa basa-basi dan tak mahir berkomunikasi?


Lalu saya berandai-andai, bagaimana ya kalau para manula ini juga bersosial lewat media? Kebetulan saja mereka orang sepuh yang tidak kenal gadget. Andai mereka tahu sedikit saja, apakah mereka akan merasa kesepian juga? Atau jangan-jangan justru berubah 'status' menjadi lansia sosialita karena saking hitsnya?


Lantas saya pun membayangkan diri saya sendiri pula. Kira-kira apa ya yang akan saya lakukan di usia senja nanti? Ketika anak-anak sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Lalu sudah tak ada 'pekerjaan' karena purna masa kerja tersebab usia. Ditambah fisik yang mulai melemah. Apakah saya akan diam saja nanti? Mungkinkah nanti saya akan rebahan di kasur sambil menatap layar. Atau bisakah saya menggenggam pena dan menggoreskan kata demi kata. Atau masih mungkinkah otak diajak berpacu mengurus ini itu meski raga mulai layu. Mengontrol bisnis misalnya, menyimak kajian atau video-video, dan yang lainnya.


Wallahua'lam, tidak ada yang tahu. Yang penting adalah berusaha bagaimana agar sisa usia tidak menjadi sia-sia. Aamiin

Sunday, 27 March 2022

Keluarga? Siapa?

21:52 0 Comments

keluarga

 
Saya mendapat tema wajib untuk menuliskan tentang keluarga. Pertama kali membaca tema yang ditentukan itu, mendadak saya berubah menjadi skeptis. Jika orang lain mungkin menggambarkan tentang keindahan sebuah keluarga, atau tentang bagaimana menciptakan keluarga yang bahagia, saya justru mempertanyakan apa itu sebenarnya keluarga. Lebih lanjut saya kembali menanyakan, siapa sebenarnya yang dianggap sebagai keluarga.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada empat arti dari keluarga. Pertama, ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah. Kedua, orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; batih. Ketiga, kaum, sanak saudara; kaum kerabat. Yang terakhir, keluarga yaitu satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat.

Dari pengertian pertama, ada beberapa sudut pandang yang bisa diambil. Jika menjadi ibu dan bapak, keluarga berarti adalah anak. Tapi nyatanya anak tak menjadi milik kita selamanya. Bukankah sudah tidak asing lagi istilah bahwa anak hanyalah titipan. Ketika akhirnya anak-anak menjadi dewasa dan menemukan pasangan hidupnya, mereka pun berpisah begitu saja. Lantas rumah pun tanpa anak-anak lagi. Maka, keluarga hanyalah menjadi sepasang bapak dan ibu saja.

Jadi, keluarga yang utama adalah sosok bapak dan ibu itukah? Tapi nyatanya, hubungan mereka pun terbentuk karena sebuah ikatan perkawinan. Yang mana sebuah ikatan bisa saja akan terurai, beda halnya jika itu ada darah yang mengalir dalam daging karena ikatan keturunan. Memang benar, menjadi anak tak bisa memilih siapa orang tuanya, dan suami atau istrilah satu-satunya sosok yang kita pilih dalam hidup kita. Tapi karena ikatan yang terjadi itulah ketika tercerai maka kembali lagi ke definisi semula. Tak sedikit pasangan yang bercerai kemudian berazzam, “Tak apa, aku akan hidup fokus bersama anak-anakku”. Padahal kembali lagi ke kasus pertama, ketika anak dewasa toh akan pergi juga.

Atau mungkin, jika dilihat dari sudut pandang anak, keluarga yang sejati adalah orang tuanya? Bagaimana tidak, dia bisa terlahir ke dunia pastinya karena peran orang tuanya. Maka, orang tua lah sosok keluarga yang abadi untuknya. Mungkin ini sejalan dengan hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa meskipun seorang lelaki telah menikah, tetap saja yang utama adalah ibunya. Yah, bisa jadi memang orang tua sosok keluarga itu.

Ini berkorelasi dengan definisi kedua dari KBBI yang menyatakan bahwa keluarga adalah sosok yang menjadi tanggungan. Terlepas dari anak-anak yang memang belum bisa menghasilkan, nyatanya orang tua tetap menjadi sosok yang akan ditanggung anaknya. Bukan karena sandwich generation, tapi agaknya sangat jarang di masa sekarang ketika seorang anak bersikap acuh dan tak menanggung orang tuanya. Ah, tentu saja masih ada. Mungkin saking sibuknya dan gila harta, dia asyik menimbun pundi-pundinya sendiri dan mengabaikan orang tua yang sebenarnya masih menjadi tanggungannya. Kalau begitu, gugur sudah definisi kedua.

Pengertian ketiga dan keempat justru lebih menarik. Bukankah tidak sedikit orang yang lebih percaya pada rekan dekatnya atau tetangga ketimbang ayah ibu atau anaknya. Ketika ada masalah, dia lari pada koleganya. Durasi waktunya pun lebih banyak dihabiskan dengan mereka ketimbang sosok di definisi pertama atau kedua. Mungkin pantas kiranya mereka memang disebut sebagai keluarga.

Sayangnya, mereka mungkin tak punya ikatan apa-apa. Tak ada darah yang mengalir sama, ataupun catatan sipil yang terdaftar di negara. Artinya ikatan ini pun tak akan berlangsung selamanya. Insidental dan seperlunya saja. Jika pindah kerja, maka sudah tidak ada komunikasi intens lagi. Begitu seterusnya. Maka, ini pun tak kekal juga.

Jadi, siapa sebenarnya keluarga? Ah, ini hanya keisengan bertanya-tanya saja. 

Saturday, 18 December 2021

Kode dari Allah

20:59 0 Comments



Pernah ga kamu merasa berada di sebuah fase kehidupan, ketika semua terasa serba sulit namun tetap saja ada kemudahan? Rasanya sudah mau nangis-nangis, tapi ternyata adaaa aja jalan dan bisa kesampaian. Ketika berada di titik finish itu lantas kamu amaze sendiri dengan fase yang sudah kamu lalui. Lho, ternyata sudah kelewat ya masa-masa sulit tadi. Pernah?


Misalnya ketika kamu sedang mengikuti sebuah kelas. Mungkin kamu sudah mau melambaikan bendera putih. Di pelupuk mata ini yang terbayang hanya tentang beratnya, lalu seolah merasa diri tidak mampu. Eh ternyata di tengah jalan ada banyak keringanan. Kita mendapat banyak kelonggaran tanpa pernah terduga sebelumnya, dan ternyata kita beneran bisa sampai lulus kelasnya. 


Di fase kelulusan itu, berasa Allah mau ngasih tahu: jangan menyerah dulu, ini ada banyak rukhsoh buat kamu karena kamu sejatinya layak untuk lulus di kelas itu.


Atau case lain, ketika kamu mengikuti sebuah komunitas atau suatu program. Namun seiring dengan berbagai kesibukan dan fase hidup berikutnya, di tengah jalan kamu mulai tertatih dengan ritme komunitas itu. Rasanya seperti sudah tidak seiring sejalan, seolah sudah ingin say good bye dan melambaikan tangan. Tapi tiba-tiba kamu seperti diberi ruang untuk mengambil jeda. Lalu diberi keleluasaan untuk balik kapan saja. Dan pas balik, seolah tidak ada yang berubah dengan dirimu atau komunitasmu. Kamu tetap familiar dan bisa kembali membersamai ritmenya.


Rasanya seperti ditunjukkan jalan sama Allah: Ini memang wadah yang pas buat kamu, dan memang kamu sengaja Aku tempatkan di sini, maka jangan coba-coba melarikan diri.


Ah, Allah itu sejatinya pasti sudah banyak memberi kode. Hanya kita saja yang mungkin kurang peka dengan maksud Allah dari setiap skenario yang diberikan pada kita. Kenapa Allah menggerakan hati kita untuk terus bertahan hingga kelulusan kelas. Kenapa Allah membuat kita terjun dan menetap di sebuah komunitas. Semuanya jelas ada campur tangan Allah untuk memberikan kita makna. Simpelnya, Allah tahu yang terbaik buat kita dan membuat kita tetap berada di jalan terbaik itu. 


Misal terkadang kita ingin memulai bisnis di bidang A. Kita sudah mempunya konsep, sudah membuat sistemnya, sudah tersedia semua tetek bengek bisnis itu. Tapi ternyata ketika sudah jalan, bisnis itu berjalan begitu-begitu saja. Bukan karena tidak mau berusaha, atau tidak mau mengembangkan bisnis untuk menemukan solusi, tetapi karena memang jatahnya cukup segitu saja.


Lalu di waktu yang bersamaan itu, tiba-tiba dengan sendirinya kita mendapat tawaran bisnis B tanpa pernah kita duga sebelumnya. Bahkan mungkin membayangkan akan berbisnis B pun tidak pernah ada dalam rencana hidup kita. Tapi ketika akhirnya kita mencoba mencicipi bisnis itu, ternyata seolah dibukakan pintu kemudahan satu demi satu. Rasanya semacam dituntun sama Allah dan ditunjukkan "ini lho ladang usaha yang tepat buatmu".


Kalau kata coach saya, pertajam lagi mata hati. Ada banyak kesempatan yang mungkin memang sudah Allah tunjukkan pada kita. Hanya saja apakah kita bisa menangkapnya sebagai peluang atau membuatnya berlalu dan menjadi sia-sia belaka.


Kalau kata ust harry rahimahullah, perbanyak lagi tazkiyatun nafs-nya. Karena hanya dengan hati yang suci kita bisa menangkap sinyal-sinyal Illahi. Nanti dengan sendirinya kita akan paham, mana jalan yang paling diridhai oleh Allah SWT. Sebuah jalan yang seolah mestakung alias semesta mendukung karena segalanya memberikan kemudahan demi kemudahan.


Apakah jalan itu ada? Ada, insya allah.


Friday, 17 December 2021

Hanya Pembantu

20:43 0 Comments



"Rewangku pulang". Rangkaian kata itu terngiang sejak beberapa hari yang lalu. Dia terlontar lewat direct message instagram dari seorang teman. Awalnya saya sekedar bersimpati, memberikan komentar sekenanya. Tapi kemudian saya justru berkontemplasi.


Bagaimana kiranya jika saya berada pada posisinya? Ketika rewang alias khadimat tiba-tiba minta pulang dan tak ada persiapan untuk mencari orang lain yang akan menggantikan.


Pun seorang teman beberapa bulan lalu juga mengalami kasus serupa. Waktu itu dia meminta tolong untuk mencarikan rewang. Bahkan permintaan tolongnya itu sudah dia sebar ke siapa saja, demi bisa segera mendapat asisten rumah tangga. Yah, tidak bisa dipungkiri kalau menemukan asisten yang awet memang tidak mudah lagi.


Saya jadi teringat dengan pengalaman saya sendiri. Beberapa waktu lalu, saya justru terpikir untuk mencari khadimat. Setelah enam tahun tidak punya asisten, rasanya tahun depan ingin mencari seseorang yang bisa bantu-bantu di rumah. Usulan itu saya sampaikan ke suami, dan langsung ditolak mentah-mentah oleh ibu mertua.


Kami punya sudut pandang berbeda. Bagi saya, kasihan kalau urusan rumah masih harus dikerjakan ibu. Biar bisa istirahat, biar tidak capek, dan yang pasti semua akan menjadi terkendali karena punya fokus pekerjaan sendiri-sendiri. Setidaknya itu yang saya pikirkan.


Namun, berbeda dengan ibu. Bagi ibu justru akan lebih merepotkan. Menjaga agar rewang bisa betah itu membutuhkan effort tersendiri. Tidak gampang mencari lalu mendidik asisten rumah tangga agar awet dalam bekerja. Alih-alih tidak cocok dan justru makan hati, lebih baik dikerjakan sendiri.


Awalnya seperti agak terasa berat, tapi saya kemudian justru teringat kata-kata bapak saat saya masih kecil dulu. Waktu itu, di rumah sedang ada acara. Entahlah saya agak lupa saking seringnya ada acara di rumah, entah pengajian, entah arisan RT, entah arisan RW. Sering. Karena diadakan di malam hari, kadang saya hanya bersembunyi di dalam kamar dengan dalih belajar atau mengerjakan tugas. Tapi di suatu waktu, entah mungkin karena umur saya sudah bukan anak-anak lagi, plus di dapur memang sedang ada kehebohan sendiri, besoknya bapak menegur saya.


"Mbak X itu statusnya di rumah sebagai pembantu"


Ups, ini bukan dalam konteks merendahkan statusnya. Lanjutan kalimat bapak berikutnya justru yang menjadi poin utama.


"Yang namanya pembantu, berarti tugasnya hanya membantu. Artinya, dia tidak mengerjakan tugas utama, tapi dia 'membantu' mengerjakan tugas itu. Sekedar memberikan bantuan saja, bukan menggantikan tugas itu sepenuhnya."


Maksud bapak waktu itu hanyalah agar saya pun ikut menyiapkan keperluan pertemuan malam sebelumnya. Tapi konsep bantu-dibantu itu cukup menarik dan membekas pada saya.


Jika memakai konsep bapak, berarti sebenarnya tanpa 'pembantu' pun sebuah tugas seharusnya bisa terlaksana. Kehadiran pembantu bukan untuk mengalihkan tanggung jawab tugas itu, namun sekedar 'membantu' penyelesaian tugas saja. Artinya, seandainya tidak ada yang membantu, pekerjaan juga tetap akan selesai kan?


Kalau dipikir-pikir, enam tahun ini nyatanya bisa terlewati juga. Mengurusi anak sendiri (dengan ibu mertua tentunya), masih sempat bekerja, dan melakukan aktivitas lainnya seolah menjadi bukti bahwa nyatanya bisa kok seandainya tidak ada pembantu.


Jelas tidak mudah, pun ekspektasi tidak bisa dipasang terlalu tinggi. Tapi menyesuaikan diri dan menjalani semampunya plus se-bahagia-nya menjadi standar yang perlu diatur untuk menjaga kewarasan diri.


Bukan berarti juga yang memiliki rewang adalah keluarga yang lemah, lantas tidak memperkenankan punya asisten rumah tangga. Boleh, tentu saja boleh. Bukankah zaman Rasul pun punya budak, meskipun dalam hal ini budak jelas berbeda dengan pembantu.


Apapun itu, yang terpenting adalah menemukan gaya kita sendiri. Mau dengan asisten atau tanpa asisten, monggo saja.


Wednesday, 15 December 2021

Newbie KLIP Lulus....!

21:23 0 Comments

Fyuh, akhirnya menuliskan ini juga

Di hari terakhir mengumpulkan skripsi KLIP, dengan segala rasa nano-nanonya akhirnya tercapai juga. Aliran rasa? Wow, terlalu banyak yang dirasakan.

Ah ya, buat yang baru tahu, KLIP adalah Kelas Literasi Ibu Profesional. Salah satu komponen di Kampung Komunitas Ibu Profesional ini memang menjadi wadah buat para perempuan untuk menulis bersama. Tantangannya adalah kami diminta untuk menulis minimal 10 kali dalam sebulan. Setidaknya sampai setahun minimal ada 120 naskah. Wow, lumayan kan.

Semula saya tertarik karena memang sudah lama tidak dikejar-kejar naskah. Rasa terdesak untuk menorehkan kata setiap hari itu seolah sirna. Demi membuat rasa itu muncul kembali itulah maka saya memilih bergabung dengan KLIP.

Tapi ternyata, yang dirasa jauh dari sekedar ingin menulis saja. Rasa frustasi ketika harapan bisa pecah telur menulis 30 hari dalam sebulan gugur hanya gara-gara ketiduran semalam cukup menohok juga. Dan itu lumayan berdampak membuat mood turun untuk mengejar 30 hari di bulan berikutnya.

Ah, tapi kemudian teringat lagi. Apa tujuanmu? Dan, ya, akhirnya terlalui juga sampai di bulan terakhir ini.

Yang jelas, saya belum merasa puas di tahun pertama ini. Di bulan-bulan terakhir saya baru sadar, sepertinya ada yang kurang dengan naskah curcol saya yang kebanyakan hanya mendekam di google document. Harusnya ada naskah-naskah yang lebih baik yang bisa dibagikan, atau bisa menjadi tunas untuk hasil karya berikutnya.

Hingga akhirnya ketika saya tersadar bahwa ada tugas menuliskan skripsi di akhir tahun, saya pun tertohok. Apa yang akan saya jadikan skripsi dari semua tulisan saya sepanjang tahun ini? Untungnya saya pernah membuat 30 hari bercerita. Untungnya juga saya pernah membuat serial mata lebah. Sekalipun memang belum sempurna dan harus tambal sulam dengan naskah lain demi mencapai syarat minimal, akhirnya jadi juga skripsi ebook sederhana yang saya beri judul 30 Hari Bercerita Mata Lebah.




Skripsi itu hanyalah kumpulan naskah yang menurut saya layak setahun ini. Saya mengambilnya dari instagram dan beberapa dari blog ini. Memang sederhana, dan bukan sebuah karya fenomenal yang sesuai ekspektasi saya sebenarnya.

Yah, tak apa. Setidaknya saya sudah mencoba di tahun pertama ini, dan setidaknya saya tahu apa yang akan saya lakukan untuk tahun berikutnya. 

Bismillah, insya Allah join lagi. Semangat !

Saturday, 16 October 2021

Yang Terakhir?

11:17 0 Comments

Ada pertanyaan menarik yang mengusik. Bisakah kita sebagai manusia menentukan sesuatu menjadi yang terakhir? Misalnya kita menentukan bahwa ini akan menjadi anak terakhir, atau menjadi cinta terakhir, atau untuk hal sepele misal melakukan cheating untuk yang terakhir kali? 


Mungkin bisa saja kita menjawab, “tentu saja bisa”, toh tinggal tergantung keteguhan hati kita untuk tidak melakukan kembali apa yang sudah diakhiri. Tapi, baru-baru ini saya menyadari kalau barangkali manusia memang tidak punya kuasa untuk menentukan apa-apa menjadi yang terakhir. Kok bisa?


Kehamilan yang Terakhir


Awal mulanya saya tergelitik ketika membaca status facebook dari Teh Kiki Barkiah. Beliau saat ini sedang hamil anak kedelapan, dan kehamilannya kali ini membuatnya payah, berbeda dengan hamil-hamil sebelumnya dimana dia masih bisa berenang, bepergian sendiri dan lain sebagainya. Melihat istrinya yang begitu kerepotan, sang suami pun berkata, “Ini yang terakhir saja ya,” Tapi buru-buru Teh Kiki meralat sembari berkontemplasi, bagaimana kita bisa tahu kalau ini yang terakhir? Bagaimana kalau Allah menitipkan lagi? Dan seterusnya. Yang pada akhirnya berujung pada kesimpulan, mereka tidak berniat untuk menentukan yang terakhir.


hamil terakhir



Kasus ini mengingatkan saya pada pengalaman artis Zaskia Adya Mecca. Bagaimana ketika dia hamil anak ketiga, dia berkata bahwa ini yang terakhir saja. Jarak anaknya dekat-dekat, toh sudah lengkap anak perempuan dan laki-laki. Tapi belum genap si anak berusia dua tahun, ternyata dia sudah hamil anak keempat. Waktu itu bilang lagi, “Oke ini yang terakhir”. Dan, tahu-tahu dia sudah mengumumkan hamil anak kelima yang usianya sudah 7 bulan. Hm, memang tidak dikabarkan dari awal, mungkin karena ada rasa “kok hamil lagi”, tapi bukan di poin itu yang saya cermati, melainkan poin bisakah memang yang terakhir?


Cinta Terakhir

Bukan hanya perkara takdir dalam kehamilan, dalam urusan cinta pun mulai muncul rasa skeptis pada makna terakhir. Sepasang sejoli boleh mengatakan kau cinta terakhirku, tapi apakah akan ada jaminan hubungan mereka langgeng? Berapa banyak orang yang sudah melakukan petualangan cinta akan selalu membual bahwa engkau adalah pemberhentian terakhirku. Tapi tetap saja ketika ada cekcok lantas hubungan kandas, dan mulai menemukan pelabuhan berikutnya. Bisakah orang tersebut menjadi yang terakhir juga?


Bahkan untuk urusan rumah tangga pun tidak ada kepastian yang terakhir. Sepasang suami istri yang begitu sangat saling mencintai tiba-tiba harus terpisah karena ajal menjemput. Awalnya mereka bagaikan sejoli, seolah cintanya adalah yang pertama dan terakhir. Tapi ketika satu pergi, apakah ada jaminan bahwa tidak akan mencari pengganti?


cinta terakhir



Terlebih dengan kebutuhan biologis, kebutuhan psikologis, dan lain-lain, tak jarang dalam hitungan bulan pun sudah menemukan pendamping yang baru. Padahal puluhan tahun sebelumnya sudah mengarungi hidup bersama mendiang pasangannya. Tetap saja kemudian menemukan yang baru, dan mungkin tidak bisa menjadi jaminan bahwa akan menjadi yang terakhir. Bagaimana jika salah satu kemudian mati (lagi) lantas kembali mencari pujaan hati?


Last But Not Least

Agaknya akan lebih bijak jika kita berkata “last but not least”. Ya, boleh saja kita berkehendak menjadikan sesuatu sebagai yang terakhir. Tapi itu hanyalah sebatas rencana manusia. Yang namanya rencana tentu diikuti dengan usaha juga untuk mencapainya. Mungkin dengan melakukan KB untuk kasus hamil misalnya, atau dengan berusaha setia dan tidak main serong untuk perkara cinta, pun tergantung kondisi untuk kasus lainnya. Tapi kembali lagi, sebatas rencana dan usaha adalah ranah manusia, dan biarkan Allah yang menentukan apakah ini memang yang terakhir untuk kita.


Thursday, 17 June 2021

Teman Plus Plus

21:03 0 Comments

 



"Mas B survey sama tim nih?" tanya teman bisnis suami di sebuah acara zoom di malam hari. Waktu itu kami sedang melakukan perjalanan karena ada keperluan untuk eksekusi project baru. Padahal ada jadwal zoom rutin yang diikuti suami. Jadilah suami nyimak dan komen zoom sambil menyetir.


Dengan santai suami menjawab pertanyaan host zoom saat itu, "Iya ini sama tim mengarungi hidup." Saya pun menahan tawa.


Berhubung masih menunggu acara zoom dimulai, host pun melanjutkan pertanyaannya, "Gimana itu tim hidup bisa jadi tim bisnis?" Wah, pertanyaannya kok jadi serius begini, batin saya dalam hati. Suami pun menjawab, "Ya ada coaching khusus lah..." Kali ini saya beneran tertawa.


Saya teringat kejadian di hari pertama menikah dulu. Bada subuh, suami sudah berdiri memegang spidol dan menghadap papan tulis yang memang saya pasang di dinding kamar. Buat apa?  Di hari itu juga suami langsung mem-brain wash saya dan menyampaikan rencana-rencana bisnisnya. Saya hanya manggut-manggut menatapnya, menyimak dari atas tempat tidur. 


Apa yang disampaikan suami sedikit banyak mempengaruhi saya. Ya mau gimana, dia imam saya. Otomatis makmum harus mengikuti imamnya kan. 


Kadang kalau orang melihat kami, seperti sepasang suami istri yang seiring berjalan bersama. Sampai ada seorang teman yang berkomentar, "Kapan ya suamiku mau diajak ngembangin bisnis bareng, mau ikut kuliah bareng," dan seterusnya dan seterusnya. Padahal....


Lagi-lagi ini tentang sawang-sinawang. Saya pun pernah terbersit hal yang sama ketika melihat seorang senior suami istri hadir di acara parenting berdua. Lalu makin mupeng ketika ternyata beliau aktif membersamai sebuah komunitas ayah bunda. Tanpa saya sadar kalau ada orang lain yang menatap hal sama pada saya dan suami, meski di ranah yang berbeda.


Kalau menurut saya, ini hanya tentang mencari kesamaan passion yang serupa. Kami pun tidak selamanya berjalan seiring berdua. Suami yang hobi olahraga bela diri misalnya. Hanya sesekali saja saya hadir menemani latihan. Tapi selebihnya saya pilih di rumah dan suami latihan sampai berjam-jam. Pun begitu sikap suami. Saya yang suka menulis misalnya. Sepertinya bisa dihitung jari suami menemani saya di acara-acara literasi.


Tapi ya begitulah kehidupan. Kita tidak sedang memperbesar lembah kan. Meratakan lembah saja tidak dianjurkan apalagi makin memperbesarnya menjadi jurang.


Yang perlu dilakukan hanya meninggikan bukit. Fokus saja pada hal-hal yang menyenangkan. Lihat saja bahwa kami seiring berdua dalam wirausaha, meski sendiri-sendiri dalam menekuni hobi. Orang tak akan menilai, "Kok ga pernah hadir literasi ditemani suami?" Yang mereka lihat adalah kebahagiaan saat hadir berdua. So, tampakkan saja kebahagiaan itu dari diri kita.