Follow Us @soratemplates

Monday, 11 September 2023

Habit Baru Kabin Healthy Life

02:46 0 Comments

Lama sekali tak mengunjungi blog ini. Berhubung saat ini saya sedang mengikuti challenge healthy life, pas banget dong dengan judul blog ini. So, kepikiran deh buat nulis lagi di sini.

Sudah sepekan ini saya mengikuti kelas kampung bakat. Walau mungkin bukan 'bakat' juga, tapi salah satu ruang kabin yang bisa dipilih adalah tentang healthy life. Kalau dipikir-pikir, masa iya ikutan kabin ini, kan udah orang medis. Hm..., nyatanya segala teori kadang cuma jadi teori dan tidak ada realisasi tanpa motivasi. Jadilah saya langsung tertarik begitu tahu kalau ada kabin ini. Harapannya biar bisa memulai lifestyle yang bener lagi, bareng temen-temen lain juga biar ga berasa kalau lagi berjuang sendirian.

Di pekan pertama ini, kami diingatkan lagi tentang sehat dan bugar. Hm, nice reminder banget ini. Konsep sehat insya Allah sudah paham. And yup, saya baru ngeuh tentang konsep bugar. Sehat (dalam arti ga sakit) aja ga cukup guys. Kalau sehat tapi badan letoy ya buat apa. Yang kita butuhkan saat ini bukan sekedar sehat, melainkan kudu bugar. Karena hanya tubuh yang bugar itulah yang bisa membawa kita berenergi dan optimal menjalankan segala aktivitas.

Nah di pekan ini kami diminta untuk memulai habit kesehatan yang baru. Ada beberapa tantangan yang harus dilakukan di misi 1, yaitu:

  • Membatasi konsumsi guka, garam, dan lemak berlebihan
  • Rutin melakukan aktivitas fisik, minimal 30 menit dalam sehari
  • Tidak merokok/terpapar asap dan residu rokok
  • Jaga berat badan ideal dan cegah obesitas
  • Cek kesehatan
 Untuk misi 1 ini saya memilih untuk melakukan stretching terlebih dahulu



Alhamdulillah hari pertama challenge aman. Stretching bisa dilakukan. Hari kedua saya tergoda untuk menambah challenge. Selain melakukan stretching, saya menambah habit baru yaitu minum putih. Yup, karena jujurly kadang suka lupa buat minum putih. Di hari ketiga, saya tambah lagi habitnya dengan mengurangi camilan manis dan beralih ke nyemil buah.

And this is it my journal.






Sepertinya begitu dulu ya. FYI, jurnal ini juga terlambat diposting karena ketiduran. Hiks.

Wednesday, 1 February 2023

Teman Ngobrol

23:17 0 Comments

 

Friendship

Punya teman ngobrol itu asyik ya? Baru-baru ini saya menyadari hal itu. Bahkan buat orang introvert seperti saya, punya satu dua orang teman ngobrol yang nyambung itu sangat menyenangkan.

Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan seorang teman dekat. Awalnya kami hanya saling share link media sosial yang sekiranya relate dengan kondisi kami saat ini. Lalu obrolan pun mengalir. Apa yang rasanya kami sembunyikan satu sama lain karena tergerus dengan kesibukan masing-masing serta merta keluar begitu saja. Saya? Tentu saja ikut bercerita. Meski penyelesainnya belum langsung bisa dieksekusi, tapi saya lega.

Lalu malam ini terjadi lagi. Seorang teman yang berjumpa lewat sebuah komunitas tiba-tiba membagikan info tentang kepribadiannya. Wow, kami langsung nyambung seketika. Meski semula memang sudah sering bercerita, tapi obrolan malam ini berbeda. Rasanya seperti ada energi baru yang saya dapat. Ya, hanya karena ngobrol dan saling bercerita.

Kalau saya tarik garis benang merahnya, dari kedua teman saya tadi sama. Kami sama-sama saling menceritakan pengalaman kami masing-masing. Bahkan mungkin kami tidak betul-betul berniat mencari solusi dari apa yang kami alami. Murni cuma bercerita saja. Yah, kata orang kebutuhan wanita memang cukup cuma didengar saja.

Tapi, nyatanya tidak semua orang mau mendengar lho. Ada yang meski sudah megeluarkan uneg-uneg panjang lebar ternyata tidak mendapat feedback sesuai dengan apa yang diharapkan. Bukan karena solusinya tidak pas, tapi lebih ke chemistry atau cara penyampaiannya yang tidak masuk di hati.

Tentang kondisi yang klik di hati ini memang gampang-gampang susah. Dari kedua teman saya tadi, saya menangkap satu hal yaitu ketika saya dipahami. Teman saya yang pertama bisa-bisanya berkomentar, "Iya wajar soalnya MBTI-mu bla bla bla bla". Wow, sesuatu yang bahkan tidak saya duga bahwa dia mengingat hasil MBTI saya. Sudut pandangnya untuk berkomentar jadi lebih terasa cocok untuk saya dengarkan.

Begitu juga dengan teman kedua. Ketika dia tahu tipe mesin kecerdasan saya, dia bisa menimpali dengan tepat. Bahkan dia mengenal sosok yang punya mesin kecerdasan serupa dengan saya. Alhasil saya merasa seolah dirangkul, seakan dimengerti bahwa karakter saya memang seperti ini.

Well, mungkin poinnya adalah bahwa dalam komunikasi memang harus ada 'saling'. Saling mendengar, saling berbagi, dan saling memahami. Tentu saja, karena tanpa saling tak akan terjadi komunikasi ini.

Thanks for you two guys

Monday, 7 November 2022

Memperbesar Katup

23:21 0 Comments



Pernah ga kamu merasa nominal tertentu itu bagi kamu besar sekali tapi dianggap kecil oleh orang lain? Baru-baru ini saya mengalaminya.


Ceritanya, beberapa waktu yang lalu suami pergi ke suatu daerah. Begitu pulang, beliau langsung cerita, "Mi, di daerah X itu ada pondok pesantren bagus lho. Itu murid-muridnya begini begono begene"

Mendengar ceritanya yang cuma sekilas itu, saya langsung menimpali. "Oh, aku tahu itu. Anaknya Bu X sekolah di situ. Itu kan blablabla" Langsung nyambung lah kami hingga kemudian terpikir gimana ya kalau Kak A nanti sekolah di situ.


Lalu suatu ketika saat scroll di sosial media, tiba-tiba saya teringat. Cari info tentang sekolah itu ah. Alhamdulillah ketemu instagram. Kebetulan sekali postingan beberapa waktu sebelumnya menampilkan info pendaftaran sekolah tersebut. Saya pun langsung meluncur ke laman yang dimaksud. Setelah membaca dari atas ke bawah, mata saya terbelalak, "Wow, uang masuknya segini? SPP-nya juga?"


Masih dalam nuansa takjub, saya pun cari info dua sekolah lain yang menjadi incaran semula. Ternyata sekolah ini tetap paling tinggi biayanya, bahkan tiga kali lipat dari pilihan sekolah alternatif kedua. Wow!


Esoknya ketika kebetulan membahas sekolah, saya pun melaporkan hasil penelusuran saya. Spontan saya berkata, "Itu mahal banget ternyata, Pi. Masa uang masuknya sekian. SPP sebulannya di situ bisa jadi SPP satu semester di pondok A."


Dengan santainya suami berkata,"Berarti kita perlu memperbesar katup, Mi, biar uang segitu ga kerasa mahal." Seketika saya pun bungkam. Beberapa saat Pak Su melanjutkan, "Kalau aku ga mikir gitu, Mi. Wong kita punya aset yang mencukupi kok. Harus yakin segitu biasa aja"


Blarr... Rasanya seperti tamparan keras!


Saya seperti ditabok dengan bahan bacaan saya beberapa waktu lalu tentang self talk. Salah satu bahasan tentang self talk ada konsep seseorang memandang rezeki. 


Di buku yang saya baca, penulis menceritakan pengalamannya dengan si anak yang berkata, "Seratus juta tuh besar atau kecil". Dengan santainya si anak berkata "Kecil". Benarkah kecil? Ya tentu saja tergantung mind setnya. Kalau dia sejak kecil termind set bahwa uang seratus juta itu kecil maka dia akan menganggap uang itu tidak seberapa. Beda halnya kalau menganggap uang seratus itu besar, maka dia tak terbayang hal yang lebih besar lagi di atasnya.


Perkara mind set ini memang gampang-gampang susah. Secara spontan orang menganggap sesuatu (dalam hal ini nominal tertentu) besar atau kecil seringkali karena sudah tertanam dalam alam bawah sadar. Mungkin paparan dari sejak dia masih kanak-kanak dianggap bahwa nominal tertentu itu sangat besar sekali.


Dalam kasus saya tadi, saya tertampar. Oh, berarti nominal sekian tadi sudah cukup besar ya buat saya? Berarti kalau saya mau dapat yang lebih besar, saya harus menganggap itu kecil agar layak mendapat yang lebih besar ya? Berarti memang benar harus memperbesar katup ya? Tapi untuk memulai memperbesar katup, berarti dimulai dari mengubah mind set dulu ya? Buat mengubah mind set, berarti saya harus berdamai dengan alam bawah sadar untuk menset up ulang nominal itu ya?


Wow! Dari obrolan singkat itu saja saya semacam disadarkan untuk mengubah salah satu self talk saya. Yup, bagaimana kita bisa meraih sesuatu kalau ita beranggapan kita tak pantas dan tak mampu. Maka, ubah dirimu lewat mengubah pikiranmu agar kamu benar-benar pantas menerima hal besar itu. Bismillah



Monday, 31 October 2022

Me and Yumi

17:46 0 Comments


Beberapa hari terakhir ini saya sedang menonton drama korea Yumi's Cells. Eh, drakor lagi? Haha iya. Telat? Hehe iya juga. Maklum saja, saya bukan drakor addict, yang selalu update dengan drama-drama baru lalu konsisten menuis reviewnya. Bahkan pernah suatu waktu saya mengikuti sebuah drama yang baru on going. Waktu itu saya justru merasa bosan. Sepertinya akan lebih menarik ketika drama itu sudah selesai, lalu saya menyimak secara marathon. Haha, ini karena selera saja.


Begitu juga dengan Yumi's Cells ini. Sejujurnya, saya pun tidak menyimak drakor ini sebelumnya. Saya tahu drama ini karena bertanya pada salah seorang adik kesayangan. Pasalnya waktu itu saya sedang begitu penat dan ingin punya sweet escape sejenak. Tiba-tiba saja langsung terbayang untuk menyimak sebuah drama. Lalu muncullah nama drakor ini sebagai salah satu rekomendasinya.


Meski sekedar sweet escape, ternyata saya sangat menikmatinya. Bahkan drakor yang sudah sampai season dua ini pun dengan rela hati saya simak dari season pertama. Buang-buang waktu? Tidak. Saya menyukainya. Buktinya saya sampai menuliskan kesan saya terhadap drama ini di sini. Bukankah kalau tidak ada kesan maka akan lewat begitu saja?


Kenapa saya begitu terkesan?


Pertama menonton thrillernya, saya cukup bingung. Apa sih ini kok ada gambar-gambar kartunnya segala. Tapi, begitu menonton episode pertama, saya langsun berbinar. Wow, ini sel-sel dalam pikiran yang sedang berbicara ya? Bukankah ini berarti sebuah self talk. Seketika saya pun bersemangat menyimaknya.


Kebetulan sekali beberapa bulan belakangan ini saya memang sedang tertarik dengan tema self talk. Hal-hal yang ada kaitannya dengan pengelolaan pikiran dan semacamnya menjadi concern saya hampir setahun ini. Nah, ketika menemukan drama korea yang berbau self talk, rasanya seperti menemukan cinta sejati. Ah, ini nih drama yang aku mau.


Yang bikin betah bahkan beberapa kali saya tergelak adalah pengemasan self talk ini dibuat dengan animasi. Sel-sel dalam pikiran itu lucu sekali menyampaikan apa yang ingin mereka utarakan. Jika dipikir-pikir rasanya memang serumit itu ketika kita akan memikirkan atau mengucapkan sesuatu. Tapi bisa jadi juga memang selucu itu ketika kita menikmati apa saja yang melintas dalam pikiran kita.




Lalu yang membuat saya semakin relate dengan drama ini adalah di season kedua Yumi mendadak keluar dari kerja dan ingin menjadi penulis. Wow, ini mirip sekali dengan kondisi saya saat ini. Sudah enam bulan ini saya berhenti bekerja. Lalu menjadi pengangguran luntang-luntung seharian di rumah. Yah, meskipun alasan mendasarnya karena ada adik baby, tapi sedikit banyak planning yang ingin saya kerjakan hampir sama dengan Yumi. Saya ingin di rumah dan mulai menulis. Sama persis kan?


Di salah satu scene ketika Yumi meratapi nasibnya kenapa harus keluar kerja dan mulai belajar menulis di usia 33 tahun, saya pun kembali tersenyum simpul. Helow ini mirip sekali dengan saya yang juga tidak menjadi pegawai di usi 32 tahun. Pun ketika Yumi mulai membandingkan kondisinya yang semula digaji tiap bulan dengan keadaannya sekarang yang tanpa penghasilan, sedikit banyak saya pun merasakannya. Yah, tidak memungkiri kalau mendapat penghasilan tetap itu cukup membuat nyaman. Haha


Tapi akhirnya Yumi mendapat debutnya menulis novel. Di poin ini agak sedikit berbeda. Bukankah sebenarnya saya sudah memulai debut saya bahkan sepuluh tahun yang lalu? Tapi, ketika Yumi berada di performa maksimalnya, bagaimana dengan saya yang sudah sepuluh tahun tapi ternyata tidak berprogres signifikan? 


Di sini saya justru mendapat booster tersendiri. Yah, mau bagimana lagi. Maksud hati melipir sejenak untuk bersenang-senang, apa daya justru mendapat suntikan semangat untuk kembali berlari kencang. 


Haha, bismillah saja. Fighting!


Monday, 17 October 2022

Pagar Mangkok

21:07 0 Comments


 


Ada istilah yang pernah saya dapat waktu masih kecil dulu. Lebih baik punya pagar mangkok daripada pagar tembok. Ada yang paham maknanya? 


Ini bukan berarti bahwa kita mensubstitusi tumpukan bata menjadi tumpukan mangkok untuk pagar di sekeliling rumah kita. Maksud dari istilah itu adalah akan lebih baik jika kita mengelilingi rumah kita dengan memberikan mangkok kepada tetangga. 


Kenapa begitu? Karena sesungguhnya tetangga adalah saudara terdekat kita. Maka, ketika kita berbuat pada tetangga dekat kita, mereka akan menjadi pagar yang ikut menjaga rumah dan keluarga kita. Kurang lebih begitu maknanya.


Nah, konsep itu saya alami betul ketika berumah tangga (walaupun dulu ketika masih tinggal dengan ibu pun saya juga tahu dan mempraktikkan hal ini). Bermula dari satu mangkok ternyata akan muncul mangkok-mangkok lain yang turut menjaga kita. Dan hingga saya menuliskan cerita ini, saya cukup takjub dengan efeknya.


Awalnya, saya membagikan gula jawa ke tetangga depan, belakang, dan samping rumah. Iya, hanya gula jawa saja. Itupun karena ada anak kos yang membawakan gula cukup banyak. Oleh-oleh dari ibunya katanya. Itu pula karena semula si anak sakit dan saya memberi obat dengan cuma-cuma. Nah kan, dari sini saja kami sudah saling memberi.


Pekan ini, saya kebanjiran 'mangkok-mangkok' lagi. Dari hari Rabu kemarin, ada tetangga yang datang membawakan pisang, es krim, dan makanan frozen seperti bakso, sosis, dan nugget. Hari Jumat kembali datang tetangga yang lain ke rumah. Beliau membawakan ayam mentah dan karak. Padahal di pagi harinya suami baru saja beli karak, dan beberapa hari sebelumnya saya juga baru membeli ayam. Auto penuh freezer kami.


Siangnya, ketika suami akan pergi keluar kota bersama rekannya, ternyata sang teman membawakan pisang raja dua lirang. Katanya panen sendiri. Masya Allah, padahal pisang canvendish yang dari hari Rabu saja belum habis. Alhamdulillah...


Hari Sabtu saya kembali membagikan gula jawa ke tetangga samping. Kebetulan hari-hari sebelumnya belum mendapat moment yang pas. Barulah tetangga samping ini diberi hari Sabtu itu. Siapa sangka hari Ahad paginya si ibu tetangga samping membawakan sop-sopan untuk kami. Jelas-jelas sop-sopan itu beli di warung. Padahal sungguh kami tidak berharap dibalas begitu. Cuma bisa bersyukur Alhamdulillah.


Agak siangnya, bapak dan ibu datang ke rumah. Lagi-lagi kami kebanjiran amunisi. Ibu membawa ayam mentah, telur, tempe, tahu, cabai, tomat, kangkung, dan bayam. Masya Allah, kulkas kami benar-benar full. Pasalnya, hari Jumat saya juga baru saja beli cabe. Suami juga beli tempe, kangkung, dan telur. Hehe kalau dipikir-pikir, belanjanya hampir mirip. Lagi-lagi Alhamdulillah... 


Belum berhenti sampai di situ. Senin pagi ini, ibu tetangga depan rumah kembali beraksi. Pintu rumah kami diketuk dan Mbak depan rumah membawakan tomat, kubis, dan labu siam. Masya Allaah... Agaknya mereka baru saja ke rumah besannya hari Ahad kemarin. Dulu ketika keluarga besan datang ke sini pun dibawakan sayur yang sama persis. Dan saya pun kecipratan sayur yang memang banyak dan segar-segar itu. Padahal pekan sebelumnya, si ibu depan rumah baru saja panen mangga. Lagi-lagi saya pun dapat jatah juga.


Masya Allah Alhamdulillah. Hanya bisa bersyukur dan berterima kasih pada Allah. Kulkas kami full, bahkan sebagian bahan masih kami taruh di luar kulkas. Rasanya sangat cukup untuk jadi bahan masakan sepekan ke depan. 


Dari sini saya diingatkan kembali tentang pagar mangkok. Ternyata bukan hanya sekedar mengurangi jatah belanja, melainkan membuat hati menjadi hangat juga. Bukankah dengan saling memberi makan akan saling menyayangi? Manakah yang tidak lebih menyenangkan dari disayangi oleh tetangga sekitar kita. Sekali lagi, Alhamdulillah...


Saturday, 15 October 2022

Menguak Salah Satu Innerchild

22:23 0 Comments



Kali ini saya ingin sedikit menorehkan jejak ala-ala menulis diary. Wow, sebuah keberanian tersendiri bagi saya untuk menguploadnya di blog ini. Seringkali tulisan-tulisan ala diary hanya teronggok pasrah memenuhi drive, atau kadang tertuang dengan tak sengaja di lembaran kertas yang kemudian tidak diketahui bagaimana nasibnya. But, it is okay to share with you.


Tadi pagi saya mengikuti salah satu event yang diadakan oleh Ibu Profesional Soloraya. Agenda utama adalah launching buku NBB2, tentu saja tidak ada nama saya di sana karena saya belum bergabung dengan IP waktu itu. Tema buku yang diangkat adalah tentang innerchild. Dalam rangka launching itulah, ada semacam kuliah zoom tentang mengelola innerchild demi menumbuhkan fitrah ayah dan bunda.


Sejujurnya, tema ini bukan makanan baru bagi saya. Agaknya saya pertama kali mengenal istilah ini ketika ikut kelas online dari ummamy bubby. Waktu itu Kak A masih batita, sudah lama kan berarti. Tapi nyatanya, saya tetap menemukan insight baru dari kulzoom tadi. Salah satu poin yang menarik dan memang dihighlight oleh pembicara adalah bahwa masa lalu apapun itu adalah hadiah terbaik dari Sang Pencipta. Masya Allah...


Nah, di sesi tadi kami diminta untuk menulis bebas atau istilahnya free writing. Kami diminta untuk menuangkan apapun yang terlintas di kepala, pun dengan melibatkan emosi jika ada. Sejujurnya saya tidak menuliskan apapun tadi, namun saya tertarik dengan salah satu tulisan yang secara sukarela dibacakan oleh salah satu peserta. Dia meminta maaf kepada anak pertamanya karena menuntut suatu hal, mungkin karena orang tuanya dulu melakukan hal yang sama.


Saya pun seolah berkaca pada diri saya sendiri. Kebetulan sekali, akhir-akhir ini saya memang sedang mengurai kondisi hati saya terkait Kak A. Lelah fisik, lelah psikis, ekspektasi dan harapan yang dihadapkan pada kenyataan kadang membuat sisi tersembunyi dalam diri muncul tanpa dibendung. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga saya harus merasa geram ketika Kak A keliru mengaji? Kenapa pula saya harus senewen mendengar suara keras Kak A? Saya sadar dan saya benar-benar bertanya. Dan saya seolah diingatkan di sesi kulzoom tadi pagi. Jangan-jangan karena innerchild saya terluka di kedua poin ini.


Saya mendadak teringat, waktu kecil dulu seringkali saya bermain ke rumah tetangga. Yah, layaknya anak-anak kecil, pasti kami bermain dengan asyik, saling tertawa, saling teriak. Tapi waktu itu, si empunya rumah berkata, "Weh Dik Avi suarane banter banget" (Wah, Dik Avi suaranya kencang sekali) Refleks tentu saja saya akan mengerem volume suara saya. Tapi kejadian itu tidak terjadi sekali, di lain waktu saya mengalaminya lagi.


Waktu itu ada rasa malu. Ibaratnya seperti anak perempuan main ke rumah orang kok suaranya kenceng banget. Sekalipun saya masih anak-anak waktu itu, tapi tidak dipungkiri ada rasa malu, tidak enak hati, merasa bersalah, dan semacamnya. Boleh jadi, rasa itu bercokol dalam diri saya hingga saya dewasa dan berdampak pada saya saat membersamai Kak A.


Kebetulan beberapa terakhir ini setiap pulang sekolah Kak A langsung bermain dengan tetangga. Mainnya di rumah sebenarnya, dan saya tak ada masalah dengan itu. Tapi ketika di suatu hari mereka bermain di jalan depan rumah, saya meradang. Kenapa? Karena Kak A berbicara dengan suara sangat kencang.


Besoknya, terjadi lagi. Mereka main bola di jalan sampai sore. Asyiknya main bola pasti bisa dibayangkan dong. Tentu saja Kak A dan teman-temannya berteriak kencang. Dan bisa diduga, saya meradang. Saya menghardik Kak A karena suara lantangnya.


Setelah dipikir-pikir, volume suara Kak A memang keras. Tapi, kenapa ketika main di rumah (tentunya dengan suara tak jauh berbeda) saya biasa saja, tetapi ketika di luar rumah saya menjadi tak tahan dan ingin marah? Ketika saya telisik, jangan-jangan ada faktor innerchild yang bermain di sini. Jangan-jangan saya marah pada Kak A karena saya merasa terluka ketika dulu bersuara lantang dan dikomentari oleh tetangga. Mungkin saya akan merasa sakit lagi ketika Kak A bersuara keras di luar rumah dan membuat tetangga ikut mengeluarkan komentar juga. Na'udzubillah...


Ini baru satu poin, dan saya sadar tentang hal itu. Dari sini saya jadi tahu bahwa kondisi yang terjadi saat ini bukan serta merta langsung diatasi. Namun, seandainya bisa dikaji dulu penyebabnya, tentu akan lebih baik lagi untuk bisa diterima dan direlease lagi.


Bismillah, semangat menyelami diri lagi dan lagi. Semoga terurai apa-apa yang masih menjadi PR di dalam diri. Aamiin...

Thursday, 13 October 2022

Hati Seluas Samudera

22:05 0 Comments



Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Peribahasa itu sepertinya sudah banyak yang tahu. Kurang lebih maknanya adalah kebaikan orang yang jauh akan tampak begitu besar dan bermakna. Di sisi lain, kebaikan orang terdekat seringkali justru tidak dianggap dan diremehkan begitu saja.


Saya teringat dengan peribahasa tersebut ketika pergi ke rumah simbah pekan lalu. Simbah memiliki empat orang putri. Ibu sebagai anak pertama sudah tiada, tinggal tiga orang bulik. Ada satu bulik yang tinggalnya tak jauh dari rumah simbah. Sedangkan dua bulik yang lain tinggal di luar kota.


Akhir pekan lalu kami menginap di rumah Simbah. Ada satu bulik juga yang dari luar kota ikut menginap. Kami memang biasa bergiliran menginap di sana menemani Simbah. Tak jarang kami justru janjian untuk bisa berkumpul bersama, di luar waktu lebaran tentunya.


Pagi itu Simbah yang memang sudah sepuh dan demensia sedikit menjadi tantangan bagi anak-anaknya. Bulik kedua yang tinggal di dekat rumah Simbah sudah menyiapkan beras dalam magic com untuk dimasak. Ternyata oleh Simbah beras itu diambil.


Selang beberapa lama, bulik mencoba memasak nasi lagi untuk kami sarapan bersama. Apa daya diambil lagi oleh Simbah. Hingga akhirnya terdengar suara keras dari mulut Simbah yang membuat bulik tidak tahan.


Akhirnya urusan masak nasi pagi itu diambil alih oleh bulik ketiga. Tentunya setelah dengan sedikit jeda waktu dan memberi pengertian cukup panjang pada simbah. Alhamdulillah nasi bisa matang.


Siangnya, hal itu terjadi lagi. Perkara mau mandi sore dan butuh merebus air untuk mandi, tiba-tiba kompor mati karena gas habis. Simbah pun mulai berkomentar ini itu, "Gimana gasnya habis" dan semacamnya. Termasuk bingung ke mana mau membeli gas.


Bulik pertama mencoba pergi ke toko yang paling dekat dari rumah. Ternyata kosong. Beberapa meter di dekatnya, toko yang lain malah tutup. Pulang dengan tangan kosong membuat Simbah tak henti-hentinya meracau. Bulik pun pergi ke toko yang lain yang agak jauh. Ternyata kosong juga.


Karena mulai rame, akhirnya lagi-lagi urusan ini diambil alih oleh bulik ketiga. Bulik dan om keluar ke jalan besar mencari toko yang lebih besar. Alhamdulillah pulang dengan berhasil membawa tabung gas baru.


Kejadian seperti hari itu bukan terjadi satu atau dua kali saja. Ini sudah menjadi makanan sehari-hari yang biasa kami temui. Dari situ saya teringat bahwa bulik kedua yang setiap hari menemani Simbah akan tampak selalu tak sempurna. Seolah banyak kesalahan, seakan tak sabar untuk menghadapi keadaan. Dibandingkan bulik lainnya yang hanya datang saat weekend, dengan energi yang lebih fresh, tidak penat karena menjadi situasi harian, tentu treatment dari bulik lain akan terasa lebih baik.


Padahal apa yang dilakukan bulik pertama jelas amat sangat besar dan tak tergantikan. Meskipun saya tahu bahwa kami memiliki porsi sendiri-sendiri. Barangkali bulik yang lain memang tidak bisa selalu ada, namun selalu sedia jika harus mengantar Simbah ke mana-mana misalnya. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan porsinya masing-masing.


Kalau dilanjutkan pembahasannya, ini bisa menjadi hal yang lebih runyam kalau menyerempet tetang Pondok Mertua Indah atau Pondok Orang Tua Indah. Yah, kalau akur-akur saja dan sudah menjadi kesepakatan bersama insya Allah akan menjadi pondok yang benar-benar indah. Tapi kalau justru menjadi gajah di pelupuk mata yang tak tampak, apa masih bersedia?


Di sini memang butuh hati yang seluas samudra. Tidak ada tepi dan batasan untuk mengabdi. Semua hanya berharap bisa memberikan sebenar-benar bakti.