Follow Us @soratemplates

Sunday, 7 January 2024

Ya Allah, Tolonglah Aku

04:26 0 Comments




Ada sebuah doa menarik yang saya imani. Sebuah doa yang menurut saya menjadi jawaban pamungkas dari apa yang dibutuhkan manusia di dunia. Doa dan dzikir ini bisa dibaca di tahiyat terakhir sebelum mengucap salam.

Allahumma a'inni 'ala dzikrika wasyukrika wa husni 'ibadatik. (Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu,dan memperbagus ibadah kepada-Mu). H.R. Abu Dawud, An-Nasai, Ahmad, dan Al-Hakim.

Ada beberapa poin menarik pada doa ini. 


Pertama, doa ini meminta tolong kepada Allah. Iya, bahkan untuk redaksi kalimat berikutnya agar bisa berdzikir, bersyukur, dan beribadah pada-Nya saja, kita justru meminta pertolongan pada Allah Ta'ala. Rasanya seperti, "Hei, kamu harus beribadah kepada-Ku, tapi tenang saja, Aku yang akan membantumu agar kamu bisa beribadah kepada-Ku." 

Wuih rasanya seperti Allah sudah memberikan jaminan. Dia bukan 'atasan' yang tanpa tedeng aling-aling memberikan tugas lalu 'mbuh piye carane' tugas itu harus dilaksanakan. Tidak, Allah tidak begitu. Dia justru meminta hamba-Nya untuk berdoa agar Dia membantu sang hamba bisa beribadah pada-Nya.

Menariknya, apa yang kita mintakan tolong kepada Allah adalah untuk bisa berdzikir, bersyukur, dan beribadah pada-Nya. Kita tidak disuruh untuk minta tolong dimudahkan ujian dalam hidup, tidak untuk minta tolong menjadi kaya raya, atau sukses di dunia. Tidak sama sekali, tetapi cukup untuk tiga permintaan di atas karena di sanalah kunci sesungguhnya.

Kita meminta tolong untuk bisa berdzikir kepada-Nya. Alih-alih meminta mendapat jalan yang mulus, kita justru berharap untuk bisa berdzikir alias mengingat Allah di setiap jalan kehidupan yang kita lalui. Iya, memang begitu konsepnya. Mau hidup kita di atas angin atau sedang berjuang hingga ndlosor-ndlosor di tanah, selagi kita mengingat bahwa itu skenario dari Allah maka akan lempeng saja diri kita untuk menjalaninya. Kok bisa? Tentu saja karena janji Allah "Ingatlah Aku maka hati akan menjadi tenang."

Apakah artinya manusia jadi tidak mau berusaha? Karena hatinya tenang-tenang saja ketika sedih, susah, atau bahagia, dan tak tergerak untuk mengejar kebahagiaan berikutnya? Tidak, bukan begitu. Ini menjadi kunci sekaligus rem bahwa kehidupan ini sejatinya milik Allah. Dengan mengingat ini maka kita akan tenang sehingga tidak lupa diri. Jikalau akan berjuang lagi, itupun semata-mata karena Allah, bukan karena kepongahan diri yang merasa bisa melakukan semuanya atas nama dirinya sendiri.

Kedua kita meminta untuk dimudahkan selalu bersyukur pada-Nya. Ini nyambung dengan bahasan yang pertama tadi. Tidak sedikit manusia yang selalu merasa kurang pada dirinya. Apalagi jika dihadapkan dengan pencapaian orang lain. Maka, kunci kedua ini yang menjadi penting.

Apapun yang kita miliki saat ini, kita meminta untuk dimudahkan dalam mensyukurinya. Lagi-lagi, apakah dengan bersyukur lantas hanya cukup dan tidak berjuang lagi? Tentu saja tidak. Bahkan Allah sendiri menjamin, "Siapa yang bersyukur atas nikmat-Ku, maka akan Aku tambah nikmat itu". Hei, sesimpel ini lho untuk menambah apa yang kita punya. Jadi bukan hanya dengan ngoyo mengejar ini itu di dunia, melainkan dimulai dulu dari syukurnya. 

Lantas jangan diimani bahwa bentuk penambahan nikmat itu dinilai dari transaksi rupiah. Tidak, nikmat dari Sang Kuasa tidak seremeh itu. Nikmat itu tak hanya tentang kuantitas, tapi berlaku juga untuk kualitasnya. Meski hanya makan es serut misalnya, tapi nikmat itu bisa bertambah berkali-kali lipat dibandingkan dengan yang makan gellato. Sesederhana itu, tapi karena hati lapang dengan syukur maka damai-damai saja ketika menjalani kehidupan.

Terakhir, kita meminta tolong pada Allah Ta'ala untuk dimudahkan beribadah pada-Nya. Tidak hanya beribadah biasa seolah menggugurkan kewajiban saja, tetapi meminta agar bisa membaguskan ibadah kita. Ini keren sekali. Artinya, apa yang akan kita lakukan ini justru atas bantuan Sang Pencipta. Dan bukankah sejatinya tugas manusia di dunia hanya untuk beribadah pada-Nya?

Bentuk dimudahkan dan dibaguskan ini tidak hanya tentang ibadah dhahir yang tertuang dalam fiqih saja. Ya, tentu saja kita berharap akan dimudahkan dan dibaguskan ketika menjalankan sholat, puasa, dan sebagainya. Selain berkat bantuan Allah, tentu karena dengan melantunkan doa ini maka kita berniat untuk memperbagus ibadah kita juga kan. 

Namun bantuan ini juga berlaku untuk semua ibadah umum alias semua lini kehidupan manusia. Bukankah bekerja adalah ibadah selagi memang diniatkan untuk ibadah. Maka artinya, kita meminta bantuan Allah untuk memudahkan dan membaguskan pekerjaan kita. Bukankan mendidik anak adalah ibadah, maka kita sejatinya sedang meminta bantuan untuk bisa mendidik dengan mudah dan baik.

Itulah kenapa saya bilang doa ini menjadi salah satu doa pamungkas saya. Karena hanya dengan tiga bantuan dari Allah itu saja, selesai sudah semua urusan di dunia. Mau melewati skenario apapun di kehidupan, Allah akan bantu untuk mengingatkan bahwa ada Dia di atas segalanya, ada Dia yang membuat hati ini lapang dengan segala hasilnya, dan ada Dia yang menolong untuk memperbagus setiap skenario hidup kita. Insya Allah.



 

Wednesday, 3 January 2024

Lini Usaha

09:00 0 Comments

 

Jangan meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang


Ada yang familiar dengan pepatah di atas?
Pepatah itu melarang untuk meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang. Why? Karena risikonya sangat besar.

Telur yang masih mentah termasuk benda yang rawan pecah. Andai kita punya beberapa telur lalu menempatkan di satu wadah, maka kita betul-betul hanya bertumpu pada satu wadah tersebut.

Seandainya wadah itu kita bawa dan ternyata kita tergelincir lalu jatuh, kemungkinan telur-telur yang berada di satu wadah itu akan ikut jatuh semua. Termasuk misalnya ketika kita sudah berhati-hati membawanya, tapi wadah itu pecah tak sengaja, maka rawan semua telur di dalamnya akan ikut pecah juga.

Konsep ini berlaku dalam menjalani kehidupan. Salah satunya dalam menggantungkan sumber pendapatan.

Dulu sekali Ibu rahimahullah pernah bercerita pada saya. Meski nanti sudah bekerja, milikilah keahlian untuk bisa menambah pemasukan. Karena dengan begitu setidaknya ada minimal dua sumber mata pencaharian. Seandainya satu pintu tertutup, maka ada pintu lain yang masih terbuka.

Waktu itu, saya yang belum mulai mencari uang sendiri hanya menelan mentah-mentah apa yang beliau katakan. Setelah dipikir-pikir, saran beliau ada benarnya juga.

Terlepas dari rizki sudah diatur oleh Allah SWT dan sudah ditentukan juga akan menghampiri kita melalui pintu yang mana, tapi memiliki banyak pintu rejeki jelas tidak ada salahnya. Melihatnya bukan dari sudut pandang matre atau gila harta, ini lebih ke mau berikhtiar untuk menjemput rizqi yang sudah dijanjikan.

Beberapa waktu lalu saya pun melihat contoh nyata dari filosofi itu. Seorang kolega yang paham betul tentang makna pepatah ini bercerita bahwa dia memiliki delapan lini usaha. Beliau yang juga seorang dokter mengambil jalan sebagai seorang wirausaha. Alih-alih mengambil studi spesialis, beliau tetap menikmati menjadi dokter umum dan spesialisasi ilmu yang didalami sendiri.

Selain praktik pribadi yang berjalan seperti pada umumnya, beliau membuka lini usaha lainnya. Ada pabrik yang beliau dirikan. Ada lini khusus marketing yang beliau kelola. Tidak hanya terkait medis, usahanya pun merambah ke bidang lainnya. Usaha pendidikan belajar ada, bahkan untuk ranah hiburan seperti membangun resort pun dia coba.

Orang bilang mungkin palugada, tapi ini beda. Palugada sering dianggap sebagai serabutan apa saja dicoba. Tapi yang ini benar-benar dikonsep. Satu per satu dibuka, dan satu demi satu dimaintenance. Ini yang membuat lini usahanya maju dan bisa menghasilkan satu demi satu.

Ingin mencoba?
Mulai saja dulu dari satu pintu rezeki yang paling kita minati. Mungkin dari sana bisa menambah pintu-pintu lainnya. Insya Allah.

Tuesday, 2 January 2024

Ruang Diskusi

13:14 0 Comments



Dalam sebuah keluarga sudah layaknya dibuka banyak ruang diskusi. Hm, tentu bukan literally ruang-ruang berbatas atap, dinding, dan lantai, melainkan sebuah kesempatan untuk saling bicara dan menyampaikan apapun dalam hati dan pikirannya.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hal yang mudah saja. Apalagi manusia dikenal sebagai makhluk yang tak bisa diam kan. Sayangnya, bagi orang yang cenderung hemat kata, mungkin membuka sesi diskusi seolah butuh meluangkan waktu tersendiri. Rasanya buat apa banyak berkata-kata kalau hanya basa-basi. Fyuh...

Di sebuah sesi kajian online Ustadz Oemar Mita berkata, "2/3 dari pernikahan itu adalah ngobrol"

Iya ga sih. Ada dua orang (bahkan lebih kalau sudah beranak pinak) ga mungkin dong hanya sunyi senyap begitu saja. Tapi coba deh disimak lagi. Obrolan yang ada di rumah kita tuh ngomongin apa sih? Apakah sekedar bertanya sudah makan belum, sudah mandi belum, dan pertanyaan beruntun seolah mengecek to do list aktivitas harian. Atau sudah meningkat dengan pertanyaan gimana tadi di sekolah, ujiannya bisa, dst yang bertubi-tubi seolah pertanyaan interogasi. Atau jangan-jangan sudah menjadi obrolan panas mengomentari debat capres cawapres misalnya. Beuh...

Ajakan sering ngobrol juga sering digaungkan di Ibu Profesional, bahkan menjadi salah satu mantra yaitu main bareng - ngobrol bareng - beraktivitas bareng. Memang tig aktivitas ini menjadi jimat untuk membangun bonding di keluarga. Kalau ga pernah main bareng ya gimana suasana mau cair. Kalau ga pernah ngobrol bareng, ya gimana mau saling memahami. Kalau ga pernah beraktivitas bareng, ya gimana mau saling support.

Rasulullah SAW sendiri juga memberikan contoh bagaimana membangun sebuah keluarga melalui ruang-ruang diskusi. Beliau mencontohkan waktu-waktu yang tepat untuk mengajak ngobrol dengan anak. Misalnya ketika sedang dalam perjalanan. 

Dalam sebuah riwayat dikisahkan Rasulullah SAW sedang menunggang unta bersama Ibnu Abbas. Alih-alih menghabiskan waktu perjalanan dengan murojaah misalnya, Rasulullah SAW justru memanfaatkan momen itu untuk memberikan pesan-pesan berharga pada anak kecil kesayangannya itu.

Di lain waktu, Rasulullah SAW memberikan nasihat pada anak-anak kecil ketika sedang menyantap hidangan makan bersama. Waktu-waktu seperti ini ruang diskusi akan lebih mudah dicerna seiring santapan yang masuk ke pencernaan juga.

Apapun itu, membuka sesi saling bicara memang perlu diagendakan jika memang belum menjadi sebuah kebiasaan atau spontanitas harian. Tentu saja karena penghuni rumah bukan cenayang yang bisa menebak apa isi hati dan pikiran.

Yuk ngobrol!


Monday, 1 January 2024

Naik Kelas

09:19 0 Comments



Tahun 2023 sudah berlalu. Seperti biasa tentu saja ada berjuta rasa ketika melewati sebuah masa, pun di 2023.

Tahun ini aku full menjadi ibu rumah tangga. Bukan hal mudah untuk mengambil keputusan menutup tempat praktik yang sudah berjalan beberapa tahun. Ya, ada mimpi besar yang memang harus aku sambut setelah ini. Dan tentu saja, mimpi itu harus berbuah konsekuensi, salah satunya yaitu dengan tidak praktik (dulu).


Mimpi apa itu?
Ah, tak perlu kuceritakan di sini. Kata orang, jika kamu punya niat lalu bercerita, kadang niatmu itu justru benar-benar hanya akan menjadi niat belaka. Tak ada pencapaian pada akhirnya. Jadi, biar kupendam dulu mimpi itu, biar kurajut dulu, hingga nanti benar-benar terwujud maka sudah pantas aku menceritakannya di sini.


Tahun ini waktuku habis untuk menyiapkan sebuah konferensi. Pasti tahu konferensi apa yang kumaksud. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Di 1 Januari 2023 aku sudah mencurahkan konsentrasi di sini. Hingga 1 Januari 2024 ternyata diriku masih tetap di sini. Selama itu? Iya... Kalau orang lain lihat mungkin, "Hah, cuma bikin event begitu saja masa persiapannya sampai setahun!" Kenyataannya, iya.


Boleh dibilang, diriku ditempa karena event ini. Aku yang dulu cinta damai, mulai berani berkontroversi. Aku yang sering memilih diam, mulai tak tahan untuk membela diri. Ketahananku berubah, sikap eguh pekewuhku jelas terpengaruh. Agak kaget juga sebenarnya, tapi apa yang terjadi tentu menjadi pembelajaran kan. Dan sedikit banyak aku belajar dari pribadiku yang berbeda ini.


Di akhir sesi part satu kemarin, sebuah apresiasi menjumpaiku. "Saya menemukan leader baru, yaitu dirimu." Oh, tidak. Jujur, aku tidak mengharap apresiasi itu.


Kata seorang sahabat, merendah untuk menghindari cim itu perlu. Sayangnya, apa yang kulakukan setahun ini rasanya justru membuatku 'tampil', sesuatu yang sebenarnya tidak seperti itu yang kuharapkan. Aku tidak dalam rangka ingin unjuk diri. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, dan tentu saja dengan menunjukkah harga diri bahwa aku bisa memberikan versi terbaik dan menunjukkan bahwa kami tidak main-main.


Lantas embel-embel di belakangnya adalah, "Semoga mau menerima tawaran untuk naik kelas." Ya, tentu saja aku ingin naik kelas. Bahkan setahun yang kulalui pun sudah membuatku berada di kelas yang berbeda dari akhir 2022. Tapi, apakah kelas di sini yang akan kulalui, itu yang masih membuatku sangsi. Apakah jika aku pindah kelas artinya aku sedang tidak 'naik' kelas, itu juga yang seolah menjadi bukti apakah sedang naik atau justru mogok dan berganti haluan.


Yang jelas, sebagai manusia kita tetap diminta untuk terus naik kelas kan. Bagaimana agar hari esok lebih baik dari hari ini, bagaimana hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tentu saja itu versi naik kelas sederhana yang akan kontinyu kita lalui.


Jadi, apakah akan naik kelas? Tentu saja, entah di kelas yang mana.

Monday, 11 September 2023

Habit Baru Kabin Healthy Life

02:46 0 Comments

Lama sekali tak mengunjungi blog ini. Berhubung saat ini saya sedang mengikuti challenge healthy life, pas banget dong dengan judul blog ini. So, kepikiran deh buat nulis lagi di sini.

Sudah sepekan ini saya mengikuti kelas kampung bakat. Walau mungkin bukan 'bakat' juga, tapi salah satu ruang kabin yang bisa dipilih adalah tentang healthy life. Kalau dipikir-pikir, masa iya ikutan kabin ini, kan udah orang medis. Hm..., nyatanya segala teori kadang cuma jadi teori dan tidak ada realisasi tanpa motivasi. Jadilah saya langsung tertarik begitu tahu kalau ada kabin ini. Harapannya biar bisa memulai lifestyle yang bener lagi, bareng temen-temen lain juga biar ga berasa kalau lagi berjuang sendirian.

Di pekan pertama ini, kami diingatkan lagi tentang sehat dan bugar. Hm, nice reminder banget ini. Konsep sehat insya Allah sudah paham. And yup, saya baru ngeuh tentang konsep bugar. Sehat (dalam arti ga sakit) aja ga cukup guys. Kalau sehat tapi badan letoy ya buat apa. Yang kita butuhkan saat ini bukan sekedar sehat, melainkan kudu bugar. Karena hanya tubuh yang bugar itulah yang bisa membawa kita berenergi dan optimal menjalankan segala aktivitas.

Nah di pekan ini kami diminta untuk memulai habit kesehatan yang baru. Ada beberapa tantangan yang harus dilakukan di misi 1, yaitu:

  • Membatasi konsumsi guka, garam, dan lemak berlebihan
  • Rutin melakukan aktivitas fisik, minimal 30 menit dalam sehari
  • Tidak merokok/terpapar asap dan residu rokok
  • Jaga berat badan ideal dan cegah obesitas
  • Cek kesehatan
 Untuk misi 1 ini saya memilih untuk melakukan stretching terlebih dahulu



Alhamdulillah hari pertama challenge aman. Stretching bisa dilakukan. Hari kedua saya tergoda untuk menambah challenge. Selain melakukan stretching, saya menambah habit baru yaitu minum putih. Yup, karena jujurly kadang suka lupa buat minum putih. Di hari ketiga, saya tambah lagi habitnya dengan mengurangi camilan manis dan beralih ke nyemil buah.

And this is it my journal.






Sepertinya begitu dulu ya. FYI, jurnal ini juga terlambat diposting karena ketiduran. Hiks.

Wednesday, 1 February 2023

Teman Ngobrol

23:17 0 Comments

 

Friendship

Punya teman ngobrol itu asyik ya? Baru-baru ini saya menyadari hal itu. Bahkan buat orang introvert seperti saya, punya satu dua orang teman ngobrol yang nyambung itu sangat menyenangkan.

Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan seorang teman dekat. Awalnya kami hanya saling share link media sosial yang sekiranya relate dengan kondisi kami saat ini. Lalu obrolan pun mengalir. Apa yang rasanya kami sembunyikan satu sama lain karena tergerus dengan kesibukan masing-masing serta merta keluar begitu saja. Saya? Tentu saja ikut bercerita. Meski penyelesainnya belum langsung bisa dieksekusi, tapi saya lega.

Lalu malam ini terjadi lagi. Seorang teman yang berjumpa lewat sebuah komunitas tiba-tiba membagikan info tentang kepribadiannya. Wow, kami langsung nyambung seketika. Meski semula memang sudah sering bercerita, tapi obrolan malam ini berbeda. Rasanya seperti ada energi baru yang saya dapat. Ya, hanya karena ngobrol dan saling bercerita.

Kalau saya tarik garis benang merahnya, dari kedua teman saya tadi sama. Kami sama-sama saling menceritakan pengalaman kami masing-masing. Bahkan mungkin kami tidak betul-betul berniat mencari solusi dari apa yang kami alami. Murni cuma bercerita saja. Yah, kata orang kebutuhan wanita memang cukup cuma didengar saja.

Tapi, nyatanya tidak semua orang mau mendengar lho. Ada yang meski sudah megeluarkan uneg-uneg panjang lebar ternyata tidak mendapat feedback sesuai dengan apa yang diharapkan. Bukan karena solusinya tidak pas, tapi lebih ke chemistry atau cara penyampaiannya yang tidak masuk di hati.

Tentang kondisi yang klik di hati ini memang gampang-gampang susah. Dari kedua teman saya tadi, saya menangkap satu hal yaitu ketika saya dipahami. Teman saya yang pertama bisa-bisanya berkomentar, "Iya wajar soalnya MBTI-mu bla bla bla bla". Wow, sesuatu yang bahkan tidak saya duga bahwa dia mengingat hasil MBTI saya. Sudut pandangnya untuk berkomentar jadi lebih terasa cocok untuk saya dengarkan.

Begitu juga dengan teman kedua. Ketika dia tahu tipe mesin kecerdasan saya, dia bisa menimpali dengan tepat. Bahkan dia mengenal sosok yang punya mesin kecerdasan serupa dengan saya. Alhasil saya merasa seolah dirangkul, seakan dimengerti bahwa karakter saya memang seperti ini.

Well, mungkin poinnya adalah bahwa dalam komunikasi memang harus ada 'saling'. Saling mendengar, saling berbagi, dan saling memahami. Tentu saja, karena tanpa saling tak akan terjadi komunikasi ini.

Thanks for you two guys

Monday, 7 November 2022

Memperbesar Katup

23:21 0 Comments



Pernah ga kamu merasa nominal tertentu itu bagi kamu besar sekali tapi dianggap kecil oleh orang lain? Baru-baru ini saya mengalaminya.


Ceritanya, beberapa waktu yang lalu suami pergi ke suatu daerah. Begitu pulang, beliau langsung cerita, "Mi, di daerah X itu ada pondok pesantren bagus lho. Itu murid-muridnya begini begono begene"

Mendengar ceritanya yang cuma sekilas itu, saya langsung menimpali. "Oh, aku tahu itu. Anaknya Bu X sekolah di situ. Itu kan blablabla" Langsung nyambung lah kami hingga kemudian terpikir gimana ya kalau Kak A nanti sekolah di situ.


Lalu suatu ketika saat scroll di sosial media, tiba-tiba saya teringat. Cari info tentang sekolah itu ah. Alhamdulillah ketemu instagram. Kebetulan sekali postingan beberapa waktu sebelumnya menampilkan info pendaftaran sekolah tersebut. Saya pun langsung meluncur ke laman yang dimaksud. Setelah membaca dari atas ke bawah, mata saya terbelalak, "Wow, uang masuknya segini? SPP-nya juga?"


Masih dalam nuansa takjub, saya pun cari info dua sekolah lain yang menjadi incaran semula. Ternyata sekolah ini tetap paling tinggi biayanya, bahkan tiga kali lipat dari pilihan sekolah alternatif kedua. Wow!


Esoknya ketika kebetulan membahas sekolah, saya pun melaporkan hasil penelusuran saya. Spontan saya berkata, "Itu mahal banget ternyata, Pi. Masa uang masuknya sekian. SPP sebulannya di situ bisa jadi SPP satu semester di pondok A."


Dengan santainya suami berkata,"Berarti kita perlu memperbesar katup, Mi, biar uang segitu ga kerasa mahal." Seketika saya pun bungkam. Beberapa saat Pak Su melanjutkan, "Kalau aku ga mikir gitu, Mi. Wong kita punya aset yang mencukupi kok. Harus yakin segitu biasa aja"


Blarr... Rasanya seperti tamparan keras!


Saya seperti ditabok dengan bahan bacaan saya beberapa waktu lalu tentang self talk. Salah satu bahasan tentang self talk ada konsep seseorang memandang rezeki. 


Di buku yang saya baca, penulis menceritakan pengalamannya dengan si anak yang berkata, "Seratus juta tuh besar atau kecil". Dengan santainya si anak berkata "Kecil". Benarkah kecil? Ya tentu saja tergantung mind setnya. Kalau dia sejak kecil termind set bahwa uang seratus juta itu kecil maka dia akan menganggap uang itu tidak seberapa. Beda halnya kalau menganggap uang seratus itu besar, maka dia tak terbayang hal yang lebih besar lagi di atasnya.


Perkara mind set ini memang gampang-gampang susah. Secara spontan orang menganggap sesuatu (dalam hal ini nominal tertentu) besar atau kecil seringkali karena sudah tertanam dalam alam bawah sadar. Mungkin paparan dari sejak dia masih kanak-kanak dianggap bahwa nominal tertentu itu sangat besar sekali.


Dalam kasus saya tadi, saya tertampar. Oh, berarti nominal sekian tadi sudah cukup besar ya buat saya? Berarti kalau saya mau dapat yang lebih besar, saya harus menganggap itu kecil agar layak mendapat yang lebih besar ya? Berarti memang benar harus memperbesar katup ya? Tapi untuk memulai memperbesar katup, berarti dimulai dari mengubah mind set dulu ya? Buat mengubah mind set, berarti saya harus berdamai dengan alam bawah sadar untuk menset up ulang nominal itu ya?


Wow! Dari obrolan singkat itu saja saya semacam disadarkan untuk mengubah salah satu self talk saya. Yup, bagaimana kita bisa meraih sesuatu kalau ita beranggapan kita tak pantas dan tak mampu. Maka, ubah dirimu lewat mengubah pikiranmu agar kamu benar-benar pantas menerima hal besar itu. Bismillah