Follow Us @soratemplates

Tuesday, 8 June 2021

SR? No!

23:17 0 Comments



Ada yang tahu istilah SR? Hm..., SR apa dulu nih. Belum-belum kok udah main say no aja.


Di kalangan medis khususnya selama bekerja di klinik perusahaan ada istilah SR buat para pegawai yang sakit. Kalau ga salah maksudnya surat rehat. Sepertinya sih gitu, saya juga ga nanya soalnya haha. Yang jelas para karyawan yang sakit itu dikit-dikit sering minta SR. Dan yaaa ternyata tanpa sadar saya berkata juga, "SR? No!" Hehe bukan apa-apa sih, karena bagaimanapun klinik punya standar kesehatana ala ketenagakerjaan. Kalau dikit-dikit memberi izin pulang karena sakit padahal masih dianggap aman ya jelas mempengaruhi produktivitas pabrik. Well ternyata SR No pun berlaku di sini.


Tapi bukan SR itu yang saya maksud. SR di sini adalah kependekan dari silent reader. Tahu dong fenomena ini di setiap whatsapp grup yang memang sudah menjamur. Orang-orang tipe ini seakan antara ada dan tiada. Mau dia di grup itu atau dia keluar dari grup pun ga berpengaruh apa-apa pada jalannya grup. Fyuh, so sad.


Beberapa waktu lalu saat mengikuti salah satu program di Ibu Profesional, saya baru menyadari ternyata urusan SR itu ga bisa dianggap dengan sekedar masa bodoh aja. "Ya udah lah biarin aja SR", buat orang muka badak kayak saya sih ga bakal dianggap pusing. Tapi, buat manajemen atau orang yang bertanggung jawab dengan program di grup itu rasanya akan amat sangat gatal. Duh ini mau diapain lagi grupnya, diajak begini sunyi, ditawarin begitu sepi. Kan jadi sedih sendiri.


Ketika akhirnya kami ditantang untuk mengatasi perkara per-SR-an ini, ternyata saya tertohok sendiri. Lhah saya kan juga bukan orang yang selalu bikin kehebohan di semua grup whatsapp yang saya punya. Memang di grup tertentu saya ramai luar biasa, tapi di grup lain ada juga yang bahkan sejak masuk belum pernah unjuk nama. Bisa kelihatan kan kalau di anggota grup tidak tertampil nama profil wa-nya haha.


Lalu seperti biasa saya asyik berkontemplasi sendiri. Kenapa ya untuk tipikal kepribadian yang sama bisa-bisanya saya memberi perlakuan yang berbeda pada grup whatsapp itu? Setelah saya renungi, sepertinya saya kurang aktif di beberapa grup karena tidak merasa memiliki. Rasa asing atau sungkan itu muncul karena seakan belum satu frekuensi dengan orang-orang di dalamnya.


Tapi setelah dipikir lagi, bagaimana bisa membaur dan merasa sefrekuensi kalau kita sendiri cuma diam-diam saja. Kalau mau ikut dalam asyiknya arus yang mengalir, jangan cuma berdiri menonton di tepi dan berharap arus akan menyeret dengan sendirinya. Tapi ceburkan saja diri kita ke dalam arus, maka kita akan ikut berenang mengikuti arus.


So, membaurlah dengan grup yang kamu miliki. Bukan karena mereka sok asyik lalu kamu tak dianggap. Tapi karena kamu sendiri yang tak mau menggabungkan diri. Jadi, apakah tetap akan menjadi tim SR? No!

Saturday, 5 June 2021

Masih Mau Nulis? Kenapa?

20:57 0 Comments



Menulis menulis menulis. Oh, no! Bahasan ini hits lagi di beberapa hari terakhir episode hidupku.


Ngikutin obrolan di wag KLIP jadi bikin merem melek sendiri. Ada hawa-hawa tak diundang yang tiba-tiba menelusup di kalbu. Rasanya sudah hampir-hampir insecure. Tapi buru-buru menarik diri. No! Aku punya jalan sendiri, dan saatnya melakukan JOMO alias joy of missing out.


Awalnya ngomongin tentang orang yang bisa kelar nulis buku atau novel dalam sebulan. Masya Allah keren banget kan. Tapi ya gimana kalau habis itu trus jadi vacuum cleaner alias vakum bin super bersih ga ada karya yang ditorehkan lagi. Ya tetap keren sih dengan pencapaian bukunya, cuma jadi ga keren paripurna gitu lho karena macet dan mogok seketika.


Lalu mulai ngomongin duit. Aih, ternyata yang punya pengalaman menjelajah media tuh banyak juga. Ada yang bisa dapat cuan belasan juta dari naskahnya. Ada yang sekali kirim media langsung publish hari itu juga. Ada yang berkali-kali lolos di media yang sama. Aih, bikin mupeng kan? Iya sih bener, tapi kalau cuma mupeng doang trus jadi bikin insecure ya buat apa.


Ditambah lagi kebetulan juga nengok sosial media. Eh, lihat teman makin bersinar dengan kiprah menulis di sebuah media bonafide di Indonesia. Mupeng lagi? Yah, wajar lah namanya juga manusia. Tapi apakah iri? Ga juga sih. Gampangnya gini, kalau posisi itu diberikan padaku, apakah aku juga akan mau dan mampu? Hm, ternyata dengan logika dan hati kecilku, aku langsung bisa menjawab tidak. So, biarkan peran itu keren untuk dirinya yang belum tentu keren untuk diriku.


Lalu teman yang lain memposting karya baru antologinya. Mupeng lagi? Ga juga lah kali ini. Toh, bukankah aku juga beberapa waktu lalu membuat naskah antologi dan ternyata rasanya cuma gitu-gitu aja. Lagi-lagi aku balik bertanya pada diri sendiri, apa aku mau di posisi itu? Mupeng punya karya baru tentu iya, tapi kalau untuk berada di posisinya sepertinya aku akan sontak menjawab, "Tidak, terima kasih, lain kali saja."


Pun bahasan kemarin tentang orang-orang yang hits dengan naskah fiksinya lewat platform menulis online. Mupeng lagi? Duh, hidupku ya mupeng mulu. Iya sih gimana ga happy kalau karyanya tenar dan dibaca banyak orang. But, lagi-lagi apakah aku akan tertarik untuk mencoba? Sepertinya sebelum memulai pun aku sudah melambaikan bendera ke kamera.


Yup, semua orang punya jalannya masing-masing. Sama-sama penulis fiksi, ada yang menulis di aplikasi nulis, ada yang berwujud karya cetak hingga berjilid-jilid. Sama-sama penulis nonfiksi, ada yang bisa kirim naskah ke media, ada yang jadi buku hits di kalangan pembaca. Sama-sama blogger, ada yang dapat cuan dari tulisannya, ada yang hepi sekedar bisa mengalirkan rasa.


Ah, semua punya jalannya sendiri. Mupeng dengan jalan orang lain boleh saja, tapi bahagia dengan jalan pilihan kita jauh lebih utama. Dan itulah alasan terpendamku kenapa aku masih mau menulis: bahagia!

Thursday, 3 June 2021

Hurry Up, Tim Anti Deadline

22:26 0 Comments



Ada yang tahu jatah waktu kita? Ups, pertanyaan retoris. Memang tidak butuh jawaban sih. Saya bertanya hanya karena sedang berandai-andai saja.


Kadang manusia meremehkan sesuatu karena merasa masih punya waktu. Hm, apalagi untuk tim deadliner macam saya begini. Ketika tahu bahwa deadline masih beberapa hari lagi, lantas merasa "Oh, besok masih bisa mengerjakan". Kadang baru terasa ketika batas waktu itu sudah sampai di penghujungnya. Satu per satu seolah dikebut untuk bisa dicapai semuanya. Parahnya kadang ujung-ujungnya menyalahkan waktu. Kok sedikit sih waktunya, dan sebagainya. Padahal sebenarnya sudah disediakan waktu sejak beberapa saat sebelumnya.


Taruhlah contoh pembayaran pajak tahunan. Zaman belum serba online begini, kantor pajak kelihatan sekali kalau menjadi tolok ukur mental manusia Indonesia yang menjadi deadline. Di bulan Februari misalnya, kantor pajak seolah beraktivitas seperti biasa. Tapi begitu memasuki bulan Maret apalagi di minggu terakhir, pengunjung begitu padat mendatangi kantor. Lantas karena terlalu banyak pengunjung berdampak pada antrian yang melebihi jam kerja. Ujung-ujungnya protes minta tambahan waktu. Padahal, salah sendiri baru datang dan antri di hari terakhir. Kenapa tidak datang di bulan sebelumnya?


Lalu saya merenungi hal itu. Sepertinya masih untung para wajib pajak itu tahu batas waktu kapan pengiriman SPT. Nah gimana kalau zakat? Untuk kasus yang hampir sama, bukankah zakat juga seolah melaporkan keuangan dan mengeluarkan haknya di setiap tahun juga?


Okelah kita tahu batas waktunya adalah haul. Hanya saja, tak ada deadline untuk pembayarannya. Begitu sudah masuk nishab dan haul, maka sudah wajib membayar zakat. Tapi mau dilakukan di hari itu atau seminggu kemudian, kembali lagi ke personnya itu.


Sayangnya, kita tidak tahu kapan batas waktu itu. Ketika ditunda dengan dalih "Ah, minggu depan saja, minggu ini repot sekali banyak meeting dan keluar kota". Hm, gimana kalau seandainya saat di luar kota itu jatah waktunya sudah habis. Dia tidak bisa meminta perpanjangan waktu. Lalu dia pergi meninggalkan dunia dalam kondisi tidak membayar zakat yang seharusnya sudah bisa dibayarkan sejak beberapa saat sebelumnya.


Tak perlu muluk-muluk tentang zakat lah, bahkan urusan sepele tentang menyegerakan sholat pun bisa berlaku hukum begini. Misal kita sudah mendengar adzan pukul 12.00 lalu kita belum sholat, dan qodarullah kita mendadak tiba-tiba harus menghadap Allah di pukul 13.00, bagaimana dengan hutang sholat kita?


Saya sedang merenungkan saja makna bersegeralah. Bukan berarti kita tergesa-gesa yang seolah tak tenang dan serabutan. Tapi ini bagaimana kita tidak menyiakan waktu untuk sesuatu yang berharga. Semoga dengan segala yang di awal waktu itu akan menjadi keberkahan tersendiri bagi kita. Aamiin

Wednesday, 2 June 2021

Pencapaian Diri, Sudah Sampai Mana Saat Ini?

03:47 0 Comments

 


Ada yang mengusik saya beberapa waktu ini. Bukan orang, bukan benda, atau apapun, melainkan tentang pencapaian diri. Awalnya karena menonton sebuah sharing dari seorang teman. Dia bisa hebat dan tampak begitu kuat. Pun pagi buta ini saya membuka sharing lainnya dan tampaklah sosok memukau berikutnya. MasyaAllah.


Rasanya saya sudah khatam tentang pepatah rumput tetangga akan selalu tampak lebih hijau daripada rumput sendiri. Syukur Alhamdulillah, saya tidak sedang iri pada mereka. No, tidak sama sekali. Saya paham betul bahwa itu memang rumput mereka, dan jelas-jelas rumputnya tak akan indah jika ditanam di rumah saya. Pun saya sadar pula bahwa saya juga punya rumput sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah rumput saya sudah tumbuh baik layaknya rumput mereka?


Saat menyimak kisah teman, ada statement menarik di sana. "Saya menjejakkan KM 0 saya 14 tahun yang lalu." Jalannya tak mudah. Bahkan sepuluh tahun pertama seperti jalan santai saja. Namun karena berada di tempat yang tepat, dia pun menghebat di empat tahun terakhir.


Begitu pula dengan teman yang satunya. Dia juga tak menyangka akan berada di pencapaiannya saat ini. Awalnya hanya sekedar menekuni hobi, sharing, dan ternyata tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, lantas tanpa sadar berdampak begitu saja. Semula pun hanya jalan di tempat setahun lamanya, sampai akhirnya melejit karena lagi-lagi menemukan tempat yang tepat.


Lalu saya merenung, bagaimana dengan saya? Apa pencapaian saya? Atau apakah sebenarnya yang ingin saya capai?


Dari dua obrolan kawan saya tersebut ada dua poin yang saya garis bawahi. Pertama tentang memulai titik nol. Semua keahlian pasti dimulai dengan langkah awal. Saya bahkan pernah menuliskannya di blog ini saat masih kuliah dulu bahwa semua yang mahir bermula dari amatir. Tak ada anak yang tahu-tahu bisa berjalan, tak ada musisi yang saat memegang alat langsung bisa menghasilkan melodi.


Semua berangkat dari titik nol. Tinggal bagaimana titik nol ini dikembangkan hingga menjadi pencapaian tersendiri. Artinya di sini butuh konsistensi, karena jika tidak konsisten bagaimana mungkin kita bisa segera mencapai kilometer tertentu yang akan kita tuju. Contoh, bagaimana mungkin seseorang akan dikatakan penghafal alquran kalau dia hanya hafalan seminggu sekali. Bagaimana bisa dia akan hafal 30 juz kalau hanya ziyadah dan murojaah setahun sekali saat Ramadhan? It's impossible.


Poin kedua setelah menentukan titik nol dan konsisten on track sesuai tujuan adalah dengan menemukan tempat yang tepat. Boleh jadi perjalanan kita mencapai tujuan akan terasa jauh dan membosankan. Maka teman-teman seperjalanan yang seritme akan memberi warna yang membahagiakan. Bahkan boleh jadi teman-teman ini akan saling 'memberikan boncengan' hingga tanpa sadar kita sampa di tujuan lebih cepat dari prediksi semula.


Ya, dua poin itu yang saya renungi pagi ini. Ada di kilometer berapa saya saat ini dan dengan siapa saya akan melangkah bersama?



Tuesday, 1 June 2021

Challenge Accepted

18:46 0 Comments




Beberapa tahun lalu saat harus memperkenalkan diri di sebuah komunitas, tanpa sadar saya menuliskan "suka berkompetisi" sejak kecil. Awalnya saya mengira itu adalah hal keren. Yah, siapa sih yang ga merasa wah dengan segudang prestasi sejak dini. Lihat saja mamak-mamak millennial zaman sekarang. Anaknya pasti pernah mencicipi lomba ini lomba itu, entah karena si anak suka atau tuntutan sekolah, atau jangan-jangan karena orang tua yang berambisi. Ups.


Namun beberapa waktu berselang, saya justru tertohok dengan kata-kata "Sekarang bukan zamannya kompetisi, tapi kolaborasi". Terlebih lagi ketika dalam perkuliahan parenting dibahas bahwa kompetisi sejak dini justru membawa mental yang tak baik. 


Anak kecil tak paham apa itu menang dan kalah. Ketika menang dia hanya memburu hadiah, lalu lagi lagi dan lagi hingga seolah mengejar nafsu yang tak ada habisnya. Dalam otaknya adalah bagaimana dia menang dan bagaimana yang lain kalah. Ya memang begitu adanya, karena jika orang lain tidak kalah artinya dia bukan pemenang. Rasanya seperti ada hawa kebencian yang saling merendahkan di sana. 


Beda halnya dengan kolaborasi, orang akan menghebat bersama. Dia akan mengakui kelebihan orang lain, makanya mereka saling bekerja sama. Katanya orang lemah yang bergabung dengan orang lemah bisa menjadi orang yang kuat. Konsep di sini berlaku juga di kolaborasi. Tak akan ada pihak yang kalah, karena sesama 'calon kalah' akan saling bekerja sama sehingga kemenangan menjadi milik semuanya.


Tapi, sepertinya hidup akan membosankan jika tak ada kompetisi. Ah, mungkin alam bawah sadar saya memang menunjukkan bahwa saya suka kompetisi. Atau mungkin saya terbawa film 3 idiots yang mengatakan bahwa hidup sejatinya adalah kompetisi. Bahkan bukankah pepatah Islam juga mengatakan agar kita saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Lalu, benarkah memang kita harus berkompetisi, atau tak perlu kompetisi dan memang pure saling berkolaborasi?


Baru-baru ini saya menyadari bahwa kompetisi mungkin memang masih perlu, tapi bukan untuk menjatuhkan lawan. Kita seharusnya berkompetisi tapi dengan diri kita sendiri. Lawan kita adalah diri kita sendiri di masa lalu. Bukankah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini? Artinya, pembanding itu akan tetap ada. Dan pembanding itulah barometer kompetisi diri sendiri.


So, saya berkata pada setiap tantangan yang datang "Challenge accepted". Semata-mata untuk memenuhi nafsu kompetisi saya, bukan untuk menjatuhkan lawan tapi untuk menjadi versi terbaru diri saya yang lebih baik lagi dan lebih baik lagi.

Sunday, 23 May 2021

Kenapa Tidak Kerja di Rumah Sakit?

06:05 0 Comments



Postingan tentang ini pernah saya unggah di sosial media. Judulnya "Kerja di Rumah Sakit mana?" Yah, sebagai dokter memang sangat wajar kalau mindsetnya adalah bekerja di rumah sakit. Sayangnya tidak semua dokter harus bekerja di sana kan? Di postingan itu saya memberikan jawaban secara general, tapi di sini saya ingin sedikit mengalirkan rasa.


Awalnya sejak memasuki periode koas saya cukup excited mendapat pasien dengan kasus rumit. Adrenalin saya terpacu ketika melihat pasien emergency. Ritme kerja yang harus cepat tanggap juga membuat saya lebih bergairah. Namun semua sirna ketika gelar dokter tersemat di nama saya dan mulai menjalani program internship.


Banyak yang bilang masa internship adalah masa yang paling menyenangkan. Gimana tidak, seorang dokter fresh graduate bisa bekerja 'amatir' tapi sudah mendapat income meski judulnya sekedar bantuan hidup dasar. Sayangnya itu tidak berlaku di saya. Bukan karena tempat internship saya yang kurang menyenangkan, tapi karena saya sudah memiliki peran yang berbeda.


Saat internship saya sudah berstatus sebagai seorang istri dan ibu. Kak A yang berusia 9 bulan waktu itu saya boyong ikut merantau keluar Solo. ART? Tentu saja tidak ada. Untuk keluarga mungil seperti kami rasanya terlalu lebay untuk menghire asisten di perantauan. Terlebih saya punya dalih ingin memantau sendiri setiap tumbuh kembang anak.


Nyatanya itu tidak mudah. Bekerja dengan sistem shift dan meninggalkan anak dengan jam yang berbeda-beda itu memberi tantangan tersendiri. Shift pagi mungkin masih aman. Sejak subuh anak dikondisikan, rumah beres, tinggal berangkat. Sayangnya kadang itu tidak berlaku saat shift siang atau malam. Anak sudah tidur di malam hari misalnya, lima menit sebelum berangkat ternyata rewel dan minta dininabobokan dsb. Tentu itu akan memakan waktu sendiri.


Padahal sistem kerja shift mengharuskan ada operan dengan shift sebelum dan sesudahnya. Jika saya terlambat datang lima belas menit saja, pasti sudah membuat resah shift sebelumnya. Saya terkesan dzalim pada rekan sejawat karena dalam lima belas menit itu bisa saja ada beberapa pasien yang masuk dan harus ditangani. Begitu pula ketika jam pulang. Ketika shift berakhir dan ternyata ada pasien yang sudah terpegang dan belum selesai dilakukan rumatan, maka ada penambahan waktu untuk menuntaskan. Dampaknya mungkin akan terlambat pulang setengah jam, atau bahkan bisa sampai satu atau dua jam.


Bukankah memang harus begitu risikonya? Yah, tentu saja. Saya paham betul bahwa memang demikian tugas seorang dokter. Sayangnya itu tidak sesuai dengan hati nurani saya. Bukan karena saya tidak pantas menjadi dokter, tapi karena peran sebagai istri dan ibu terusik dengan cara kerja yang demikian.


Maka saya memilih bekerja di klinik semacam praktik pribadi dengan jam buka dari jam sekian hingga sekian. Pasien datang akan saya layani, begitu selesai maka klinik tutup. Kalaupun ada penambahan waktu karena pasien datang di injury time, paling hanya menambah waktu lima atau sepuluh menit.


Dengan begitu, ritme hidup saya lebih teratur. Saya tahu jam berapa saya akan fokus menjadi dokter. Saya juga tahu mulai jam berapa saya akan berganti peran menjadi seorang ibu dengan sadar penuh membersamai anak.


Yah, ini hanya kasus pada diri saya saja. Dokter wanita yang tetap prima dengan segala perannya meski bekerja di rumah sakit juga ada. So, tidak selayaknya setiap dokter dipukul rata.

Tuesday, 18 May 2021

I'm Back

20:07 0 Comments



Aku kembali di sini, setelah beberapa hari kemarin bermain-main di instagram dan facebook. Aku bilang di sana bahwa aku butuh menepi, butuh sepi, butuh bebas bermain-main dengan sudut pandang, pun bebas untuk merayakan cerita. Yah, semua itu benar adanya.


Aku memang butuh menepi. Bagiku sosial media terasa begitu menjadi pusat perhatian. Terlalu banyak orang yang mencetak personal brandingnya dan sengaja membuat dirinya menjadi poros utama. Ah, aku memang tak nyaman dipandang banyak orang. Maka aku memilih di sini, yang tak terlalu mencolok mata dan hanya orang tertentu saja yang memang menyengaja untuk berkunjung di sini.


Aku memang butuh suasana sepi. Bagiku sosial media begitu bising dan riuh. Sekali waktu akan ada banyak yang berkomentar, atau memberikan tanda love pada postingan. Ah, padahal ternyata tidak semua benar-benar dibaca. Tak sedikit yang sekedar formalitas atau semacam solidaritas, atau malah sekedar boom like agar postingan miliknya sendiri akan muncul di beranda. Yah, semacam meningkatkan engegament begitulah. Maka aku memilih di sini yang sepi, yang tak banyak orang saling bersahut-sahutan menimpali atau berbasa-basi membubuhkan tanda cinta di sana-sini.


Aku memang masih butuh bermain-main dengan banyak sudut pandang. Instagram bagiku terlalu membatasi diri. Yah, meskipun menjadi tantangan tersendiri untuk bisa menulis di atas 300 kata tapi di bawah 2200 karakter. Tapi bagiku ini nanggung. Jika ingin lepas memainkan sudut pandang, seharusnya aku mengambil ruang tanpa batas. Dan di sinilah pilihanku, tanpa aku perlu memikirkan apakah space masih tersedia. Aku bebas berekspresi sejauh apa yang aku mau.


Aku pun ingin bebas merayakan cerita. Yah, bagiku ada hal-hal tabu untuk dishare di sosial media. Pun ada banyak hati yang perlu dijaga. Tentang relasi suami istri misalnya, sungkan untuk dibaca teman yang sudah kenal. Tentang keseruan bersama anak barangkali, padahal ada beberapa yang sedang mendamba hadirnya buah hati. Yah, bisa saja sebenarnya saya memposting apapun sesuai keinginan saya, toh itu media sosial saya sendiri. Tapi tetap saja rasa sungkan dan filter itu perlu dijaga. Maka kembali lagi pada alasan pertama dan kedua. Di sini lebih sepi dan tak terlalu menjadi pusat perhatian. Aku tak mengganggu suasana hati mereka yang perlu dijaga. Toh mereka bisa saja tak perlu repot-repot mampir ke sini.


Yah, inilah jalan yang kupilih saat ini. Meski sempat beranggapan masa iya mau jadi blogger, tapi aku memilih sebatas sebagai jalan yang paling nyaman untuk dilalui. Apakah ini bearti aku akan beralih dari penulis media atau penulis buku menjadi penulis blog? Wallahua'lam.