Follow Us @soratemplates

Saturday, 18 December 2021

Kode dari Allah

20:59 0 Comments



Pernah ga kamu merasa berada di sebuah fase kehidupan, ketika semua terasa serba sulit namun tetap saja ada kemudahan? Rasanya sudah mau nangis-nangis, tapi ternyata adaaa aja jalan dan bisa kesampaian. Ketika berada di titik finish itu lantas kamu amaze sendiri dengan fase yang sudah kamu lalui. Lho, ternyata sudah kelewat ya masa-masa sulit tadi. Pernah?


Misalnya ketika kamu sedang mengikuti sebuah kelas. Mungkin kamu sudah mau melambaikan bendera putih. Di pelupuk mata ini yang terbayang hanya tentang beratnya, lalu seolah merasa diri tidak mampu. Eh ternyata di tengah jalan ada banyak keringanan. Kita mendapat banyak kelonggaran tanpa pernah terduga sebelumnya, dan ternyata kita beneran bisa sampai lulus kelasnya. 


Di fase kelulusan itu, berasa Allah mau ngasih tahu: jangan menyerah dulu, ini ada banyak rukhsoh buat kamu karena kamu sejatinya layak untuk lulus di kelas itu.


Atau case lain, ketika kamu mengikuti sebuah komunitas atau suatu program. Namun seiring dengan berbagai kesibukan dan fase hidup berikutnya, di tengah jalan kamu mulai tertatih dengan ritme komunitas itu. Rasanya seperti sudah tidak seiring sejalan, seolah sudah ingin say good bye dan melambaikan tangan. Tapi tiba-tiba kamu seperti diberi ruang untuk mengambil jeda. Lalu diberi keleluasaan untuk balik kapan saja. Dan pas balik, seolah tidak ada yang berubah dengan dirimu atau komunitasmu. Kamu tetap familiar dan bisa kembali membersamai ritmenya.


Rasanya seperti ditunjukkan jalan sama Allah: Ini memang wadah yang pas buat kamu, dan memang kamu sengaja Aku tempatkan di sini, maka jangan coba-coba melarikan diri.


Ah, Allah itu sejatinya pasti sudah banyak memberi kode. Hanya kita saja yang mungkin kurang peka dengan maksud Allah dari setiap skenario yang diberikan pada kita. Kenapa Allah menggerakan hati kita untuk terus bertahan hingga kelulusan kelas. Kenapa Allah membuat kita terjun dan menetap di sebuah komunitas. Semuanya jelas ada campur tangan Allah untuk memberikan kita makna. Simpelnya, Allah tahu yang terbaik buat kita dan membuat kita tetap berada di jalan terbaik itu. 


Misal terkadang kita ingin memulai bisnis di bidang A. Kita sudah mempunya konsep, sudah membuat sistemnya, sudah tersedia semua tetek bengek bisnis itu. Tapi ternyata ketika sudah jalan, bisnis itu berjalan begitu-begitu saja. Bukan karena tidak mau berusaha, atau tidak mau mengembangkan bisnis untuk menemukan solusi, tetapi karena memang jatahnya cukup segitu saja.


Lalu di waktu yang bersamaan itu, tiba-tiba dengan sendirinya kita mendapat tawaran bisnis B tanpa pernah kita duga sebelumnya. Bahkan mungkin membayangkan akan berbisnis B pun tidak pernah ada dalam rencana hidup kita. Tapi ketika akhirnya kita mencoba mencicipi bisnis itu, ternyata seolah dibukakan pintu kemudahan satu demi satu. Rasanya semacam dituntun sama Allah dan ditunjukkan "ini lho ladang usaha yang tepat buatmu".


Kalau kata coach saya, pertajam lagi mata hati. Ada banyak kesempatan yang mungkin memang sudah Allah tunjukkan pada kita. Hanya saja apakah kita bisa menangkapnya sebagai peluang atau membuatnya berlalu dan menjadi sia-sia belaka.


Kalau kata ust harry rahimahullah, perbanyak lagi tazkiyatun nafs-nya. Karena hanya dengan hati yang suci kita bisa menangkap sinyal-sinyal Illahi. Nanti dengan sendirinya kita akan paham, mana jalan yang paling diridhai oleh Allah SWT. Sebuah jalan yang seolah mestakung alias semesta mendukung karena segalanya memberikan kemudahan demi kemudahan.


Apakah jalan itu ada? Ada, insya allah.


Friday, 17 December 2021

Hanya Pembantu

20:43 0 Comments



"Rewangku pulang". Rangkaian kata itu terngiang sejak beberapa hari yang lalu. Dia terlontar lewat direct message instagram dari seorang teman. Awalnya saya sekedar bersimpati, memberikan komentar sekenanya. Tapi kemudian saya justru berkontemplasi.


Bagaimana kiranya jika saya berada pada posisinya? Ketika rewang alias khadimat tiba-tiba minta pulang dan tak ada persiapan untuk mencari orang lain yang akan menggantikan.


Pun seorang teman beberapa bulan lalu juga mengalami kasus serupa. Waktu itu dia meminta tolong untuk mencarikan rewang. Bahkan permintaan tolongnya itu sudah dia sebar ke siapa saja, demi bisa segera mendapat asisten rumah tangga. Yah, tidak bisa dipungkiri kalau menemukan asisten yang awet memang tidak mudah lagi.


Saya jadi teringat dengan pengalaman saya sendiri. Beberapa waktu lalu, saya justru terpikir untuk mencari khadimat. Setelah enam tahun tidak punya asisten, rasanya tahun depan ingin mencari seseorang yang bisa bantu-bantu di rumah. Usulan itu saya sampaikan ke suami, dan langsung ditolak mentah-mentah oleh ibu mertua.


Kami punya sudut pandang berbeda. Bagi saya, kasihan kalau urusan rumah masih harus dikerjakan ibu. Biar bisa istirahat, biar tidak capek, dan yang pasti semua akan menjadi terkendali karena punya fokus pekerjaan sendiri-sendiri. Setidaknya itu yang saya pikirkan.


Namun, berbeda dengan ibu. Bagi ibu justru akan lebih merepotkan. Menjaga agar rewang bisa betah itu membutuhkan effort tersendiri. Tidak gampang mencari lalu mendidik asisten rumah tangga agar awet dalam bekerja. Alih-alih tidak cocok dan justru makan hati, lebih baik dikerjakan sendiri.


Awalnya seperti agak terasa berat, tapi saya kemudian justru teringat kata-kata bapak saat saya masih kecil dulu. Waktu itu, di rumah sedang ada acara. Entahlah saya agak lupa saking seringnya ada acara di rumah, entah pengajian, entah arisan RT, entah arisan RW. Sering. Karena diadakan di malam hari, kadang saya hanya bersembunyi di dalam kamar dengan dalih belajar atau mengerjakan tugas. Tapi di suatu waktu, entah mungkin karena umur saya sudah bukan anak-anak lagi, plus di dapur memang sedang ada kehebohan sendiri, besoknya bapak menegur saya.


"Mbak X itu statusnya di rumah sebagai pembantu"


Ups, ini bukan dalam konteks merendahkan statusnya. Lanjutan kalimat bapak berikutnya justru yang menjadi poin utama.


"Yang namanya pembantu, berarti tugasnya hanya membantu. Artinya, dia tidak mengerjakan tugas utama, tapi dia 'membantu' mengerjakan tugas itu. Sekedar memberikan bantuan saja, bukan menggantikan tugas itu sepenuhnya."


Maksud bapak waktu itu hanyalah agar saya pun ikut menyiapkan keperluan pertemuan malam sebelumnya. Tapi konsep bantu-dibantu itu cukup menarik dan membekas pada saya.


Jika memakai konsep bapak, berarti sebenarnya tanpa 'pembantu' pun sebuah tugas seharusnya bisa terlaksana. Kehadiran pembantu bukan untuk mengalihkan tanggung jawab tugas itu, namun sekedar 'membantu' penyelesaian tugas saja. Artinya, seandainya tidak ada yang membantu, pekerjaan juga tetap akan selesai kan?


Kalau dipikir-pikir, enam tahun ini nyatanya bisa terlewati juga. Mengurusi anak sendiri (dengan ibu mertua tentunya), masih sempat bekerja, dan melakukan aktivitas lainnya seolah menjadi bukti bahwa nyatanya bisa kok seandainya tidak ada pembantu.


Jelas tidak mudah, pun ekspektasi tidak bisa dipasang terlalu tinggi. Tapi menyesuaikan diri dan menjalani semampunya plus se-bahagia-nya menjadi standar yang perlu diatur untuk menjaga kewarasan diri.


Bukan berarti juga yang memiliki rewang adalah keluarga yang lemah, lantas tidak memperkenankan punya asisten rumah tangga. Boleh, tentu saja boleh. Bukankah zaman Rasul pun punya budak, meskipun dalam hal ini budak jelas berbeda dengan pembantu.


Apapun itu, yang terpenting adalah menemukan gaya kita sendiri. Mau dengan asisten atau tanpa asisten, monggo saja.


Wednesday, 15 December 2021

Newbie KLIP Lulus....!

21:23 0 Comments

Fyuh, akhirnya menuliskan ini juga

Di hari terakhir mengumpulkan skripsi KLIP, dengan segala rasa nano-nanonya akhirnya tercapai juga. Aliran rasa? Wow, terlalu banyak yang dirasakan.

Ah ya, buat yang baru tahu, KLIP adalah Kelas Literasi Ibu Profesional. Salah satu komponen di Kampung Komunitas Ibu Profesional ini memang menjadi wadah buat para perempuan untuk menulis bersama. Tantangannya adalah kami diminta untuk menulis minimal 10 kali dalam sebulan. Setidaknya sampai setahun minimal ada 120 naskah. Wow, lumayan kan.

Semula saya tertarik karena memang sudah lama tidak dikejar-kejar naskah. Rasa terdesak untuk menorehkan kata setiap hari itu seolah sirna. Demi membuat rasa itu muncul kembali itulah maka saya memilih bergabung dengan KLIP.

Tapi ternyata, yang dirasa jauh dari sekedar ingin menulis saja. Rasa frustasi ketika harapan bisa pecah telur menulis 30 hari dalam sebulan gugur hanya gara-gara ketiduran semalam cukup menohok juga. Dan itu lumayan berdampak membuat mood turun untuk mengejar 30 hari di bulan berikutnya.

Ah, tapi kemudian teringat lagi. Apa tujuanmu? Dan, ya, akhirnya terlalui juga sampai di bulan terakhir ini.

Yang jelas, saya belum merasa puas di tahun pertama ini. Di bulan-bulan terakhir saya baru sadar, sepertinya ada yang kurang dengan naskah curcol saya yang kebanyakan hanya mendekam di google document. Harusnya ada naskah-naskah yang lebih baik yang bisa dibagikan, atau bisa menjadi tunas untuk hasil karya berikutnya.

Hingga akhirnya ketika saya tersadar bahwa ada tugas menuliskan skripsi di akhir tahun, saya pun tertohok. Apa yang akan saya jadikan skripsi dari semua tulisan saya sepanjang tahun ini? Untungnya saya pernah membuat 30 hari bercerita. Untungnya juga saya pernah membuat serial mata lebah. Sekalipun memang belum sempurna dan harus tambal sulam dengan naskah lain demi mencapai syarat minimal, akhirnya jadi juga skripsi ebook sederhana yang saya beri judul 30 Hari Bercerita Mata Lebah.




Skripsi itu hanyalah kumpulan naskah yang menurut saya layak setahun ini. Saya mengambilnya dari instagram dan beberapa dari blog ini. Memang sederhana, dan bukan sebuah karya fenomenal yang sesuai ekspektasi saya sebenarnya.

Yah, tak apa. Setidaknya saya sudah mencoba di tahun pertama ini, dan setidaknya saya tahu apa yang akan saya lakukan untuk tahun berikutnya. 

Bismillah, insya Allah join lagi. Semangat !

Saturday, 16 October 2021

Yang Terakhir?

11:17 0 Comments

Ada pertanyaan menarik yang mengusik. Bisakah kita sebagai manusia menentukan sesuatu menjadi yang terakhir? Misalnya kita menentukan bahwa ini akan menjadi anak terakhir, atau menjadi cinta terakhir, atau untuk hal sepele misal melakukan cheating untuk yang terakhir kali? 


Mungkin bisa saja kita menjawab, “tentu saja bisa”, toh tinggal tergantung keteguhan hati kita untuk tidak melakukan kembali apa yang sudah diakhiri. Tapi, baru-baru ini saya menyadari kalau barangkali manusia memang tidak punya kuasa untuk menentukan apa-apa menjadi yang terakhir. Kok bisa?


Kehamilan yang Terakhir


Awal mulanya saya tergelitik ketika membaca status facebook dari Teh Kiki Barkiah. Beliau saat ini sedang hamil anak kedelapan, dan kehamilannya kali ini membuatnya payah, berbeda dengan hamil-hamil sebelumnya dimana dia masih bisa berenang, bepergian sendiri dan lain sebagainya. Melihat istrinya yang begitu kerepotan, sang suami pun berkata, “Ini yang terakhir saja ya,” Tapi buru-buru Teh Kiki meralat sembari berkontemplasi, bagaimana kita bisa tahu kalau ini yang terakhir? Bagaimana kalau Allah menitipkan lagi? Dan seterusnya. Yang pada akhirnya berujung pada kesimpulan, mereka tidak berniat untuk menentukan yang terakhir.


hamil terakhir



Kasus ini mengingatkan saya pada pengalaman artis Zaskia Adya Mecca. Bagaimana ketika dia hamil anak ketiga, dia berkata bahwa ini yang terakhir saja. Jarak anaknya dekat-dekat, toh sudah lengkap anak perempuan dan laki-laki. Tapi belum genap si anak berusia dua tahun, ternyata dia sudah hamil anak keempat. Waktu itu bilang lagi, “Oke ini yang terakhir”. Dan, tahu-tahu dia sudah mengumumkan hamil anak kelima yang usianya sudah 7 bulan. Hm, memang tidak dikabarkan dari awal, mungkin karena ada rasa “kok hamil lagi”, tapi bukan di poin itu yang saya cermati, melainkan poin bisakah memang yang terakhir?


Cinta Terakhir

Bukan hanya perkara takdir dalam kehamilan, dalam urusan cinta pun mulai muncul rasa skeptis pada makna terakhir. Sepasang sejoli boleh mengatakan kau cinta terakhirku, tapi apakah akan ada jaminan hubungan mereka langgeng? Berapa banyak orang yang sudah melakukan petualangan cinta akan selalu membual bahwa engkau adalah pemberhentian terakhirku. Tapi tetap saja ketika ada cekcok lantas hubungan kandas, dan mulai menemukan pelabuhan berikutnya. Bisakah orang tersebut menjadi yang terakhir juga?


Bahkan untuk urusan rumah tangga pun tidak ada kepastian yang terakhir. Sepasang suami istri yang begitu sangat saling mencintai tiba-tiba harus terpisah karena ajal menjemput. Awalnya mereka bagaikan sejoli, seolah cintanya adalah yang pertama dan terakhir. Tapi ketika satu pergi, apakah ada jaminan bahwa tidak akan mencari pengganti?


cinta terakhir



Terlebih dengan kebutuhan biologis, kebutuhan psikologis, dan lain-lain, tak jarang dalam hitungan bulan pun sudah menemukan pendamping yang baru. Padahal puluhan tahun sebelumnya sudah mengarungi hidup bersama mendiang pasangannya. Tetap saja kemudian menemukan yang baru, dan mungkin tidak bisa menjadi jaminan bahwa akan menjadi yang terakhir. Bagaimana jika salah satu kemudian mati (lagi) lantas kembali mencari pujaan hati?


Last But Not Least

Agaknya akan lebih bijak jika kita berkata “last but not least”. Ya, boleh saja kita berkehendak menjadikan sesuatu sebagai yang terakhir. Tapi itu hanyalah sebatas rencana manusia. Yang namanya rencana tentu diikuti dengan usaha juga untuk mencapainya. Mungkin dengan melakukan KB untuk kasus hamil misalnya, atau dengan berusaha setia dan tidak main serong untuk perkara cinta, pun tergantung kondisi untuk kasus lainnya. Tapi kembali lagi, sebatas rencana dan usaha adalah ranah manusia, dan biarkan Allah yang menentukan apakah ini memang yang terakhir untuk kita.


Thursday, 17 June 2021

Teman Plus Plus

21:03 0 Comments

 



"Mas B survey sama tim nih?" tanya teman bisnis suami di sebuah acara zoom di malam hari. Waktu itu kami sedang melakukan perjalanan karena ada keperluan untuk eksekusi project baru. Padahal ada jadwal zoom rutin yang diikuti suami. Jadilah suami nyimak dan komen zoom sambil menyetir.


Dengan santai suami menjawab pertanyaan host zoom saat itu, "Iya ini sama tim mengarungi hidup." Saya pun menahan tawa.


Berhubung masih menunggu acara zoom dimulai, host pun melanjutkan pertanyaannya, "Gimana itu tim hidup bisa jadi tim bisnis?" Wah, pertanyaannya kok jadi serius begini, batin saya dalam hati. Suami pun menjawab, "Ya ada coaching khusus lah..." Kali ini saya beneran tertawa.


Saya teringat kejadian di hari pertama menikah dulu. Bada subuh, suami sudah berdiri memegang spidol dan menghadap papan tulis yang memang saya pasang di dinding kamar. Buat apa?  Di hari itu juga suami langsung mem-brain wash saya dan menyampaikan rencana-rencana bisnisnya. Saya hanya manggut-manggut menatapnya, menyimak dari atas tempat tidur. 


Apa yang disampaikan suami sedikit banyak mempengaruhi saya. Ya mau gimana, dia imam saya. Otomatis makmum harus mengikuti imamnya kan. 


Kadang kalau orang melihat kami, seperti sepasang suami istri yang seiring berjalan bersama. Sampai ada seorang teman yang berkomentar, "Kapan ya suamiku mau diajak ngembangin bisnis bareng, mau ikut kuliah bareng," dan seterusnya dan seterusnya. Padahal....


Lagi-lagi ini tentang sawang-sinawang. Saya pun pernah terbersit hal yang sama ketika melihat seorang senior suami istri hadir di acara parenting berdua. Lalu makin mupeng ketika ternyata beliau aktif membersamai sebuah komunitas ayah bunda. Tanpa saya sadar kalau ada orang lain yang menatap hal sama pada saya dan suami, meski di ranah yang berbeda.


Kalau menurut saya, ini hanya tentang mencari kesamaan passion yang serupa. Kami pun tidak selamanya berjalan seiring berdua. Suami yang hobi olahraga bela diri misalnya. Hanya sesekali saja saya hadir menemani latihan. Tapi selebihnya saya pilih di rumah dan suami latihan sampai berjam-jam. Pun begitu sikap suami. Saya yang suka menulis misalnya. Sepertinya bisa dihitung jari suami menemani saya di acara-acara literasi.


Tapi ya begitulah kehidupan. Kita tidak sedang memperbesar lembah kan. Meratakan lembah saja tidak dianjurkan apalagi makin memperbesarnya menjadi jurang.


Yang perlu dilakukan hanya meninggikan bukit. Fokus saja pada hal-hal yang menyenangkan. Lihat saja bahwa kami seiring berdua dalam wirausaha, meski sendiri-sendiri dalam menekuni hobi. Orang tak akan menilai, "Kok ga pernah hadir literasi ditemani suami?" Yang mereka lihat adalah kebahagiaan saat hadir berdua. So, tampakkan saja kebahagiaan itu dari diri kita.

Thursday, 10 June 2021

Hobi Belajar atau Hobi Jajan Kelas?

22:11 0 Comments



Beberapa waktu lalu saya posting tentang 'suka kompetisi'. Buat yang belum baca, boleh baca di tulisan berjudul Challenge Accepeted. Hehe ga penting juga sih. Ya siapa tahu aja pingin baca biar nyambung sama cuap-cuap saya kali ini.


Berhubung saya mau mengubah mind set untuk tidak berkompetisi menjatuhkan lawan, maka saya mulai kembali asyik menyelami diri sendiri. Yah semata-mata untuk mencari apa sih sebenarnya yang membuat mata saya berbinar? Alias, apa sebenarnya jalan yang bisa saya tempuh agar bisa lebih menikmati hidup dengan penuh warna.


Well, setelah merenungi serpihan-serpihan episode hidup, ternyata saya berbinar sekali ketika belajar. Weits? Ga salah baca nih?! Iya bener, ternyata saya suka belajar. Saya bahagia sekali ketika bisa join kelas ini kelas itu. Saya merasa tertantang sekali ketika ada ilmu baru dan ternyata ada sesuatu yang harus dikerjakan.


Tapi meski saya suka belajar, saya perlu berpikir dua kali untuk mendaftar di sebuah instansi. Yah maksudnya untuk menjadi seorang mahasiswa resmi. Alih-alih menyiapkan toefl atau surat rekomendasi, saya justru keranjingan ikut kelas online di sana-sini. Saking banyaknya, kadang dalam satu waktu saya mengikuti lebih dari satu kelas dalam durasi waktu yang bersamaan.


Cuma, beberapa waktu lalu saya tertohok oleh satu hal. Di era pandemi ini, orang zaman sekarang lebih gampang jajan kelas daripada jajan makanan. Eh, gimana maksudnya? Iya, tahu dong kalau akhir-akhir ini kelas online begitu merajalela. Nah saking banyaknya itu, kadang orang pingin ikut kelas A, kelas B, dan seterusnya. Biasanya sih yang punya aura-aura FOMO alias fear of missing out. Dia ngrasa takut ketinggalan kalau ga ikut kelasnya sekarang.


Then, mendaftarlah dia dan join kelasnya. Tapi, apa yang terjadi kemudian? Ternyata dia cuma numpang lewat. Dia cuma numpang daftar, trus numpang di kelas, trus tahu-tahu kelas berakhir. Kok gitu? Iya saking ga sempat karena sibuk ini itu. Jadi yang penting masuk dulu, dapet materi dulu, belajarnya nanti aja lagi. Yakin?


Nyatanya, mereka yang ngaku ntar saya pelajari sendiri ternyata ga dipelajari juga. Ups, itu sih saya kayaknya. Buktinya apa? Contoh aja nih, materi dalam bentuk pdf atau ebook kayaknya udah ngumpul banyak banget di hp. Tapi mau dikurangi kok belum dibaca. Nah itu sama juga tuh kayak syndrom sejak zaman kuliah. Yang penting ikutan fotocopy dulu, belajarnya belakangan. Yang penting ikut beli buku dulu, belajarnya nanti aja kalau mau ujian.


Duh, kalau gini sih berarti mentalnya yang perlu diperbaiki. Biar belajarnya memang murni haus akan ilmu, bukan sekedar euforia takut ketinggalan materi.


Yah semoga masih ada waktu. At least semoga niat menuntut ilmunya dicatat sebagai satu amalan kebaikan oleh Allah SWT. Aamiin

Tuesday, 8 June 2021

SR? No!

23:17 0 Comments



Ada yang tahu istilah SR? Hm..., SR apa dulu nih. Belum-belum kok udah main say no aja.


Di kalangan medis khususnya selama bekerja di klinik perusahaan ada istilah SR buat para pegawai yang sakit. Kalau ga salah maksudnya surat rehat. Sepertinya sih gitu, saya juga ga nanya soalnya haha. Yang jelas para karyawan yang sakit itu dikit-dikit sering minta SR. Dan yaaa ternyata tanpa sadar saya berkata juga, "SR? No!" Hehe bukan apa-apa sih, karena bagaimanapun klinik punya standar kesehatana ala ketenagakerjaan. Kalau dikit-dikit memberi izin pulang karena sakit padahal masih dianggap aman ya jelas mempengaruhi produktivitas pabrik. Well ternyata SR No pun berlaku di sini.


Tapi bukan SR itu yang saya maksud. SR di sini adalah kependekan dari silent reader. Tahu dong fenomena ini di setiap whatsapp grup yang memang sudah menjamur. Orang-orang tipe ini seakan antara ada dan tiada. Mau dia di grup itu atau dia keluar dari grup pun ga berpengaruh apa-apa pada jalannya grup. Fyuh, so sad.


Beberapa waktu lalu saat mengikuti salah satu program di Ibu Profesional, saya baru menyadari ternyata urusan SR itu ga bisa dianggap dengan sekedar masa bodoh aja. "Ya udah lah biarin aja SR", buat orang muka badak kayak saya sih ga bakal dianggap pusing. Tapi, buat manajemen atau orang yang bertanggung jawab dengan program di grup itu rasanya akan amat sangat gatal. Duh ini mau diapain lagi grupnya, diajak begini sunyi, ditawarin begitu sepi. Kan jadi sedih sendiri.


Ketika akhirnya kami ditantang untuk mengatasi perkara per-SR-an ini, ternyata saya tertohok sendiri. Lhah saya kan juga bukan orang yang selalu bikin kehebohan di semua grup whatsapp yang saya punya. Memang di grup tertentu saya ramai luar biasa, tapi di grup lain ada juga yang bahkan sejak masuk belum pernah unjuk nama. Bisa kelihatan kan kalau di anggota grup tidak tertampil nama profil wa-nya haha.


Lalu seperti biasa saya asyik berkontemplasi sendiri. Kenapa ya untuk tipikal kepribadian yang sama bisa-bisanya saya memberi perlakuan yang berbeda pada grup whatsapp itu? Setelah saya renungi, sepertinya saya kurang aktif di beberapa grup karena tidak merasa memiliki. Rasa asing atau sungkan itu muncul karena seakan belum satu frekuensi dengan orang-orang di dalamnya.


Tapi setelah dipikir lagi, bagaimana bisa membaur dan merasa sefrekuensi kalau kita sendiri cuma diam-diam saja. Kalau mau ikut dalam asyiknya arus yang mengalir, jangan cuma berdiri menonton di tepi dan berharap arus akan menyeret dengan sendirinya. Tapi ceburkan saja diri kita ke dalam arus, maka kita akan ikut berenang mengikuti arus.


So, membaurlah dengan grup yang kamu miliki. Bukan karena mereka sok asyik lalu kamu tak dianggap. Tapi karena kamu sendiri yang tak mau menggabungkan diri. Jadi, apakah tetap akan menjadi tim SR? No!