Follow Us @soratemplates

Monday, 22 September 2014

Berdiam Sejenak

11:49 0 Comments

Aku duduk di sudut ruangan pagi ini. Tak ada aktivitas, tak ada kepentingan. Ah, salah. Bukankah duduk mematung juga sebuah aktivitas? Andai aku bisa meminjam jubah tak terlihat Hary Potter, mungkin lengkap sudah ketidakberadaanku kali ini. Ya, aku sedang menjalani hobiku, meniadakan diri sendiri dan membuat orang lain benar-benar ada. Sebuah kesenangan aneh yang diam-diam sering kulakukan di tengah kesendirian.  

Seorang teman mengajariku dulu, "Cobalah sekali waktu kamu diam dan memposisikan diri sebagai orang lain. Kau akan banyak belajar dan merasakan dirimu dan orang lain."  

Aku mengangguk. Tentu saja. Bukankah kita akan lebih memahami orang lain ketika kita memposisikan diri sebagai orang lain itu. Ternyata bukan itu maksudnya. Bukan untuk memahami, tetapi sekedar merasakan kehidupan yang berbeda dari hidupmu sendiri.  

Maka itulah yang aku lakukan, murni dengan dalih iseng dalam kesendirian.  

Aku mengamati bapak parkir yang berdiri di tepi jalan. Sesekali dia duduk dan tengok kanan kiri. Beberapa residen lalu lalang, masuk ke gang tikus. Hm, mungkin mereka baru sempat sarapan. Ada teman-teman koas yang baru datang. Sebagian tergesa, sebagian berjalan gontai. Hei hei, ini masih pagi kawan. Tiba-tiba terdengar suara tukang parkir, dengan deru mesin mobil yang ia atur. Seorang pasien turun perlahan dari sebuah sepeda motor. Terlalu perlahan. Oh, kakinya luka. Seorang staff melintas. Ada yang menyapa, menunduk, menghormat. Ada yang acuh, mungkin tidak kenal atau tak pernah berurusan. Di seberang sana teman koas terkantuk-kantuk, "Ah, malas. Pulang aja lah," katanya sambil beranjak. Ponselku bergetar, "Aku memutuskan: ya". Aku tersenyum. Kupandang lagi sekeliling, pekerja bangunan masih berlalu-lalang. Pasien masih berdatangan. Tukang parkir masih mengatur-atur.  

Aku tersenyum.

Dunia terus berputar, sekalipun kamu berdiam. Akan terus bergerak, sekalipun kamu berhenti sejenak. Begitu adanya, sesuai perannya. Peran bapak parkir, pekerja bangunan, dokter, pasien, bahkan peran burung berkicau yang menari di langit pagi ini.  

Aku beranjak. Kuambil peranku. Sudah saatnya kembali meramaikan dunia.

Saturday, 13 September 2014

Di Tanganmu

15:15 0 Comments
Seorang gadis menghabiskan waktu dengan membaca buku ditemani secangkir kopi dan alunan musik klasik di sebuah kafe. Seorang lelaki menepuk pundaknya dan mengambil duduk tepat di depannya.

"Hai, apa kabar? Bagaimana hidupmu? Bagaimana mimpi-mimpimu?" tanyanya.

Gadis itu membetulkan posisi duduknya, melanjutkan membaca.

"Bagaimana rencana studimu? Kau jadi melanjutkan S-2? Sudah mendapat beasiswa? Atau justru sudah diterima?" kejarnya.

Gadis itu masih tetap membaca.

"Atau kau mau mulai bekerja? Bagaimana dengan rencana kariermu? Sudah mulai merintis usaha seperti yang kau rencanakan dulu? Apa bisnismu sekarang?" tanyanya lagi.

Gadis itu meraih cangkir kopinya, meminumnya sebentar, tanpa memalingkan matanya dari barisan huruf di bukunya.

"Hei, ada apa denganmu? Aku tak melihat binar di matamu. Kau berbeda! Jangan-jangan kau belum merencanakan hidupmu? Di mana kau yang selalu bersemangat menceritakan mimpi dan rencana masa depanmu?" lelaki itu mengguncang bahu sang gadis.

Gadis itu menepis tangan lelaki di bahunya. 

"Sudah, diamlah! Aku ini perempuan. Masa depanku ada di tangan kaummu, lelaki."

Gadis itu kembali membaca bukunya.


Thursday, 4 September 2014

Smile :)

22:31 0 Comments
Bagaimana perasaanmu hari ini? Jika Anda bertanya pada saya tadi pagi, mungkin saya akan menjawab, "Ah, malas, ga enak badan, skip saja lah hari ini". Tapi, coba tanyakan di petang tadi, maka saya akan menjawab, "Happy...! Alhamdulillah, hari ini menyenangkan!". 

Ada apa gerangan? Tidak ada apa-apa sebenarnya. Saya hanya sedang memaknai tentang konsep bahagia. Ada yang bilang, "Bukan karena bahagia maka kamu tersenyum, tapi karena tersenyum maka kamu bahagia". Hari ini saya merasakan betul makna di balik kalimat itu.

Tadi pagi saya berangkat ke rumah sakit dengan semangat seadanya saja. Yah, sekedar menjalani hari, berharap rutinitas hari ini berakhir dengan segera. Mungkin kalau saya berkaca, wajah saya akan terlihat tertekuk di mana-mana. 

Tapi, refleks otot wajah saya berubah.Tepatnya ketika memasuki bangsal pagi itu dan mulut ini berkata, "Pagi ibu, saya dari bagian jantung, mau periksa tensi ya. Pagi ini ada keluhan?" Mulai berceritalah pasien-pasien itu. Entah tentang nyerinya, entah tentang sesaknya, sembari saya berkutat dengan manset tensimeter di pergelangan tangan mereka. Saya? Tersenyum.

Lalu saya melangkah ke poliklinik, menemui pasien-pasien yang sudah duduk manis di ruang tunggu. Ah, banyaknya, mungkin saya akan menggerutu begitu. Tapi, lagi-lagi ketika mulut berkata, "Silakan duduk pak/bu, baru pertama datang?" atau "Mau operasi ya pak/bu?" atau ketika pertanyaan berlanjut, "Apa yang dirasakan pak/bu?". Lagi-lagi saya tersenyum.

Jam sudah lewat pukul 14.00. Teman koas bahkan sudah kabur dan mengajak saya pulang saja. Tapi pasien di luar kamar periksa masih banyak. Residen masih memeriksa pasien satu demi satu. Kalau mau, saya bisa saja pulang. Dan saya hampir saja menggerutu karena berpikir, "Duh residennya lama sekali, mau pulang jam berapa ini". Tapi, saya justru melangkah masuk ke ruang periksa residen dan justru mendiskusikan pasien. Beliau mengajari saya ini itu. Ah, Alhamdulillah dapat ilmu. Pun ketika keluarga pasien yang saya periksa sebelumnya berkata, "Belum pulang bu dokter?" dan saya menjawab, "Belum, bu. Menunggu dokternya sekalian." Lagi-lagi cuma bisa dengan tersenyum.

Ketika pulang, waktu menunjukkan lebih satu jam dari jam kerja. Seharusnya saya segera pulang karena ada janji jaga klinik salah satu organisasi yang saya ikuti. Kalau dipikir-pikir, sudah sore begini pasti malas sekali harus berangkat lagi dan menjaga klinik. Betapa enaknya sampai di rumah langsung berbaring dan melepas lelah. Tapi saya teringat bagaimana beberapa tahun yang lalu saya kecewa ketika menghubungi koas dan sibuk tidak bisa menjaga klinik. Maka, saya tekadkan untuk berangkat, demi menjaga semangat adik-adik tingkat.

Dan lagi-lagi itulah yang terjadi pada saya. Ketika pasien bercerita, "Saya sudah sendirian bu dokter, sakit-sakitan begini," atau, "Suami saya kecelakaan dan jadi begitu, dok. Obatnya habis," atau "Saya cocok berobat di sini dok, mau minta obat ini saja". Lagi-lagi saya tersenyum.

Dalam hati saya berpikir, ah dokter itu sungguh manusia bermuka dua. Bagaimana teraduk-aduknya hatinya, tetap saja dia bermuka topeng dengan memasang senyum di depan pasiennya. Munafikkah? Tidak, menurut saya. Bagi saya hari ini, justru senyum saya yang dipaksa keadaan itulah yang membuat hati saya benar-benar bahagia.

Mungkin benar bahwa dokter itu adalah artis, ya pekerja seni. Seorang senior pernah berkata ketika saya dan teman-teman menjadi pengurus harian OSIS SMA dulu. "Pengurus inti OSIS itu harus bisa jadi artis dan bermain peran. Kalian boleh pusing memikirkan program kerja, tapi ketika bertemu anak buah dan mendengar keluhan mereka, posisikan diri untuk menjadi ayah dan ibu yang mengayomi. Ketika kalian bertemu teman non-pengurus OSIS, tertawalah dan bermainlah seolah OSIS tak ada masalah. Begitu seterusnya." Saya rasa, peran dokter tak jauh berbeda.

Mengapa saya tersenyum? Entahlah. Mungkin saya bersyukur karena kondisi saya jauh lebih baik daripada pasien-pasien saya. Mereka mengeluh pada saya. Artinya, posisi saya jelas lebih beruntung dibandingkan mereka. Atau, mungkin hanya sekedar sopan santun semata sebagai seseorang penyaji jasa. Entah apapun itu, yang pasti saya merasakan bahwa karena tersenyum maka saya bahagia, dan belum tentu sebaliknya yaitu karena bahagialah maka saya baru tersenyum.

Sungguh, saya berterima kasih sekali pada pasien-pasien yang saya temui hari ini. Terima kasih karena telah membuat saya bahagia. Tentu saja saya tidak bermaksud bahagia di atas penderitaan mereka. Tapi, mereka begitu banyak memberikan hikmah untuk hati ini. Terima kasih. Dan yang bisa saya lakukan hanyalah mendoakan mereka agar Allah SWT segera memberikan kesehatan pada mereka. Aamiin...

Saya jadi teringat pada seorang sahabat lama saya, sahabat OSIS saya yang selalu memaksa saya untuk tersenyum. Ketika tekanan terasa berat di mana-mana, dia akan selalu memaksa, "Keep smiling!". Ketika air mata rasanya ingin menetes, dia akan menggenggam erat tangan saya sambil tersenyum dan berkata, "Keep smiling".

Ya, keep smiling. Tetaplah tersenyum karena justru dengan tersenyum maka kau akan bahagia.




Monday, 1 September 2014

Sudah Biasa

05:21 0 Comments
Saya punya teman dekat, sebut saja namanya Budi. Kami beda kelompok koas, hanya sesekali saja bertemu di stase tertentu. Suatu ketika saya menjadi seniornya. Ketika suasana koas pada saat itu sangat ribut, dia sebagai koas junior terlihat begitu banyak perkerjaan, sedangkan saya sebagai senior kebetulan sudah menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Maka saya menghampirinya.

Saya mengambil beberapa jatah pekerjaannya dan dia sontak berkata, "Eh, mau dibawa ke mana?" Tahu dia bertanya begitu, saya pun menjawab dengan nada sewot, "Mau aku kerjain. Mau ga dibantuin? Mau cepet pulang ga?" Saya pun langsung ngloyor pergi tanpa menunggu komentarnya. Teman kelompok saya yang mendengar itu langsung berkata, "Aduh Mbak Avi, galak amat sih sama Budi. Kasihan kan". Tahu ada yang membela, Budi tersenyum menang. Saya mengomentari dengan ringan, "Sama Budi aja mah udah biasa. Biarin".

Beberapa menit kemudian kami para koas diajak makan siang. Kebetulan kami koas senior banyak yang puasa, sedangkan koas junior sedang tidak puasa. Mereka tidak enak hati karena makan padahal senior tidak. Maka saya pun berkata, "Ya udah sana makan, biar kerjaannya dilanjutin senior. Seniornya baik kan," kataku sambil tertawa. Tiba-tiba Budi menyahut setengah menggerutu, "Apaan ketawa-ketawa. Baik apanya. Itu sih karena senior puasa, kalau ga juga tetap bakal makan." Saya cuma manyun mendengar Budi ngomel sendiri. Giliran teman Budi yang berkomentar, "Kamu kok galak banget sih sama Mbak Avi." Kini saya yang tersenyum karena dibela. Tapi Budi pun menimpali, "Halah, sama Avi, udah biasa".

Hm, saya hanya iseng mau berkontemplasi di sini. Saya dan Budi adalah seorang teman yang sudah cukup mengenal. Mungkinkah karena merasa sudah mengenal lantas kami saling menggampangkan satu sama lain? Saya merasa biasa saja ketika sewot pada Budi, pun Budi juga biasa saja ketika mengomel pada saya. Sebaliknya saya juga biasa saja jika Budi mengomeli saya dan mungkin Budi juga sudah biasa pula ketika saya sewot padanya. Hanya saja, ini berlaku bagi kami, bagaimana menurut orang lain?

Layaknya teman sekelompok saya maupun teman sekelompok Budi, mereka menganggap kami terlalu galak satu sama lain, walaupun kami pribadi tidak menganggapnya demikian. Lantas saya berpikir, begitukah pandangan orang di dunia ini terhadap sikap seseorang yang dilihatnya? Khususnya ketika pandangan itu menjadi berbeda hanya karena faktor biasa dan belum terbiasa.

Contoh simpel lain begini. Ketika bertemu dengan orang tua di luar sana terlebih yang belum begitu kenal, mungkin seseorang akan begitu hormat dan menggunakan bahasa jawa halus. Tapi, beda halnya dengan orang tua sendiri di rumah. Mungkin karena sudah terbiasa lantas menganggap komunikasi selayaknya normal saja tanpa perlu 'mundhuk-mundhuk' dengan bahasa krama. Begitu juga dengan sahabat sendiri. Kita bisa bebas bersikap tanpa peduli image tertentu sedangkan dengan orang baru kita terkesan menjaga image. Begitukah?

Saya menganggapnya mungkin karena orang yang sudah terbiasa diharapkan sudah mengenal dan memahami kita. Barangkali orang tua akan maklum ketika anaknya tidak 'mundhuk-mundhuk'. Atau mungkin sahabat terdekat kita akan sangat paham ketika kita lepas kontrol dan menumpahkan padanya. Tapi, bagaimana dengan orang lain di luar zona kita?

Oke, kita memang tidak harus memperhatikan semua penilaian orang lain pada kita. Cuma, akan menjadi cukup miris ketika orang menganggap sikap ini sebagai sikap yang sekedar jaga image semata. Oh, tenyata si A itu ga hormat sama orang tuanya. Ah, ternyata si B kalau lepas kontrol memalukan juga. Hm, ternyata si C galak juga, dan seterusnya yang ternyata berbeda dengan image pada umumnya.

Bukan perkara imagenya menurut saya, melainkan saya anggap sebagai sebuah pengingat. Oh, ternyata manusia juga harus menjaga sikap. Bagaimana kita seharusnya tidak membeda-bedakan perilaku hanya karena menggampangkan posisi seseorang. Sekalipun tidak ada masalah karena mereka orang terdekat kita, bukankah menjaga sikap untuk menjadi lebih baik juga tidak ada salahnya?

Yah, ini sekedar iseng saja. Toh bagaimana sikapmu, itu terserah padamu...
CMIIW... :)

Tuesday, 26 August 2014

Mungkin Kamu Lelah

04:59 0 Comments
Seorang teman menemukanku teronggok tak berdaya di sudut musholla kampus siang tadi. Dia yang semula sekedar lewat lantas terpekik tak menyangka mendapatiku dalam posisi begitu. "Kamu kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir. Maka keluarlah ceritaku, dan dia menanggapi, "Mungkin kamu lelah. Aku sedih ngliat kamu kacau begini, padahal biasanya hidupmu selalu tertata rapi."

Lelah. Bukan sekali ini saja aku menuliskan tentang lelah di sini. Ada banyak tema lelah yang sudah aku keluarkan dari otakku sebelumnya. Lagi-lagi semua dengan sudut pandang berbeda. Semula di artikel lelah? aku mempertanyakan makna syukur bagi orang yang merasa lelah. Lalu di artikel lelah marah aku mempertanyakan tentang manajemen hati betapa lelah harus dikeluarkan dengan keikhlasan agar tidak merusak hati. Dan kali ini aku mempertanyakan lagi tentang keadaan kala lelah ini.

Teman yang menegurku di musholla itu semula sudah menegurku di kamar koas. Kami bercakap-cakap sebentar dan dia berkomentar, "Hei, jaga hati. Kenapa kamu marah-marah sama aku? Aku ga salah apa-apa kok kena semprot?" Asli, aku tidak bermaksud sama sekali untuk marah-marah. Nyatanya, temanku menganggapku begitu.

Aku pernah sedih dan menangis karena lelah. Bukan, bukan karena terlalu lelah hingga kesal dan menangis, tapi aku menangis kenapa aku harus mengalami kelelahan fisik yang mempengaruhi kelelahan hati. Di tulisan sebelumnya aku sudah menulis tentang makna ikhlas agar lelah fisik tidak merembet menjadi lelah hati. Sayangnya, tidak melulu aku bisa seperti itu dan pada akhirnya hati pun ikut lelah dan aku menangisi hal itu.

Saat itu aku lelah dan dalam bayanganku aku ingin segera pulang untuk beristirahat. Aku ingin tidur dulu untuk membayar hutang tidur jaga malamku. Pun aku ingin mendinginkan hati dulu setelah dicerca tekanan ini itu. Bayanganku rumah adalah tempat yang indah. Tidur, dan sirna sudah lelah fisik dan hati itu. Nyatanya, tidak bisa demikian. Di rumah aku dituntut menjalankan peranku sebagai anggota rumah. Ada keluarga yang menunggu yang berharap aku melakukan ini itu. Lelah? Entahlah, semula aku paham bahwa semua orang punya kelelahannya masing-masing. Maka, tak peduli dengan lelahku, aku seharusnya tetap melakukan pekerjaanku itu. Dan itulah yang terjadi, lelah, marah, yang akhirnya berujung dengan air mata yang menetes. Bukan apa-apa. Itu hanyalah air mata penyelasan, kenapa pula aku harus melibatkan amarah ketika lelah. Dan semua tinggal sebuah penyesalan.

Beberapa teman yang tahu kondisiku saat itu berkomentar bahwa mereka pernah mengalami keadaan itu pula. Bayangan rumah yang tenang menjadi awut-awutan karena kita sendiri yang uring-uringan. Sebenarnya kami sudah tahu juga bahwa urusan kerja (koas) biarlah urusan di rumah sakit, dan urusan rumah tetap urusan rumah. Aku juga pernah menuliskan begitu sebelumnya tentang jangan bawa-bawa urusan pekerjaan dalam rumah tangga. Nyatanya kami belum cukup mahir untuk itu, dan kami masih terbawa emosi ketika terjadi intrik yang seharusnya bisa ditanggapi biasa-biasa saja dengan keluarga.

Kami menyesal. Sungguh kami sedih ketika harus marah saat lelah. Lagi-lagi setan yang menguasai, dan pada akhirnya setan akan tertawa sedangkan kami hanya menangis. Sudah terlanjur marah, sudah terlanjur lelah, sudah terlanjur ada noda dalam interaksi dengan orang lain.

Seorang teman akhirnya berpendapat, "Memang harus banyak-banyak istigfar. Usahakan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, bibir tidak pernah berhenti untuk beristigfar. Mohon ampun atas semua kesalahan di rumah sakit. Mohon ampun untuk hati yang terlanjur panas. Mohon ampun agar sesampai di rumah semua telah sirna dan hati menjadi tenang."

Ya, barangkali memang begitu. Perjalanan pulang haruslah menjadi ajang introspeksi, bukan sekedar ajang pengharapan kenikmatan istirahat yang sudah di angan-angan. Pun diingat pula sepertinya bahwa manusia cuma bisa berharap yang belum tentu semua terlaksana. Aku boleh saja berharap segera merebahkan badan begitu sampai di rumah, nyatanya belum tentu keadaan di rumah akan benar-benar mendukung untuk melakukan demikian.

Maka istigfar saja. Ketika fisik mulai terasa lelah, mohon ampun saja sebelum hati terlanjur merasakan lelah pula. Lebih baik mohon ampun di awal daripada mohon ampun di akhir dengan air mata penyesalan. Semoga kita masih tetap ikhlas menjalani rutinitas hingga tak perlu merasa lelah. Semoga jikalau akhirnya lelah sudah mendera fisik tak sampai merembet hingga lelah hati. Semoga... Aamiin...



Monday, 25 August 2014

Menulis, Mengganggu

01:24 0 Comments
Menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Tapi, bagi sebagian orang, menulis juga bisa dianggap sebagai suatu aktivitas yang memberatkan. Banyak yang mengeluh terbengkalai ini itu karena harus menulis. Lantas tiba-tiba terbersit pertanyaan, apakah menulis itu pekerjaan yang mengganggu?

Seorang teman yang ditanya tentang progres menulisnya berkata, "Maaf, aku sedang sibuk menggantikan peran sebagai seorang ibu." Lain lagi teman berkata, "Aku tidak menulis, aku mau fokus skripsi dulu." Begitu juga beberapa alasan serupa yang mengesankan bahwa menulis adalah kegiatan menyita waktu dan mungkin akan mengganggu rutinitas lainnya.

Sebaliknya, ada yang berkomentar pada orang yang konsisten menulis, "Kok bisa masih sempat menulis?" Atau mereka bertanya-tanya, "Ga terganggu aktivitasnya dengan menulis?" Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya yang mengesankan keraguan mengapa harus repot-repot menulis di tengah rutinitas lainnya.

Bagi sebagian orang, menulis adalah caranya untuk bersenang-senang. Maka, ketika waktu begitu padat, bukan tidak mungkin dia justru menulis untuk membuat dirinya tetap senang. Ini bukan perkara sempat atau tidak sempat untuk menulis, atau tentang mengganggu waktu lainnya atau tidak, tetapi ini tentang pemuasan kebutuhan untuk menulis yang mungkin justru akan terus disempatkan agar aktivitas lain tidak terganggu karena otak yang keburu mendidih kepanasan.

Barangkali pertanyaan ini serupa dengan pertanyaan membaca itu memanfaatkan waktu atau justru membuang waktu? Seseorang yang sedang memiliki banyak pekerjaan memilih menggunakan waktunya untuk membaca terlebih dahulu. Lantas orang lain berkata, "Kenapa malah membuang-buang waktu dengan membaca, segera kerjakan tugasmu". Padahal di mata orang itu bisa saja dia berpikir, "Lebih baik aku memanfaatkan waktu dengan membaca, daripada justru aku membuang waktu karena belum menemukan jawaban dari tugas-tugasku."

Seorang teman pernah menanggapi pertanyaan itu. Baginya, kalau bacaan yang dia baca itu baik, berarti dia memanfaatkan waktu. Tapi jika bacaan yang dia baca tidak ada gunanya, berarti dia membuang-buang waktu. Jika dikembalikan ke masalah semula terkait menulis, akankah berarti jika tulisan itu berguna maka dia tidak mengganggu dan jika tulisan itu tak bermutu maka ia hanyalah sebagai pengganggu? 

Padahal ada orang di luar sana yang beranggapan tak ada bacaan yang tak berguna dan tak ada tulisan yang tak bermutu. Sekalipun itu bacaan buruk, tinggal pintar-pintar bagaimana si pembaca mampu menangkap hikmahnya. Ambil baiknya, buang buruknya, jadikan pembelajaran. Maka bacaan itu tetap menjadi bacaan yang berguna. Berlaku pula bagi suatu tulisan. Tak ada istilah tulisan baik atau buruk karena semua dinilai menurut selera pembaca. Tulisan yang dianggap sampah bahkan ternyata mengandung nilai yang bisa terbaca oleh mereka yang pandai mengungakapnya.

Lalu? Apakah itu artinya membaca tetaplah berguna dan menulis tak seharusnya mengganggu?

Mungkin value dari sebuah aktivitas yang kita lakukan hanyalah diri kita yang merasakan. Orang mungkin tak habis pikir melihat orang lain yang tengah malam menulis tidak penting di blog. Bukankah lebih baik dia istirahat? Orang mungkin tak habis pikir pula melihat orang lain yang membaca buku pengembangan diri padahal ada setumpuk diktat kuliah yang belum dikuasai. Bukankah dia lebih baik segera menyelesaikan buku-buku kuliahnya? Tapi, siapa kita dan siapa mereka? Apa hak kita melarang orang lain mendapatkan nilai dari aktivitas baca dan tulisnya?

Jikalau kita terganggu karena orang lain yang menganggap baca tulis kita adalah kegiatan yang tak bermutu, biarkan saja. Atau, bagi Anda yang masih merasa bahwa baca tulis hanyalah sambilan yang cukup mengganggu, mungkin perlu dicari lagi value-nya. Karena semua aktivitas kita akan kembali berarti ketika kita mampu mengambil nilainya. Insya Allah.


Saturday, 2 August 2014

Harta Tahta Wanita

17:15 0 Comments

Ada sebuah anggapan di masyarakat bahwa manusia sering terjebak pada tiga nafsu dunia. Nafsu tersebut adalah tentang harta, tahta, dan wanita. Hal ini tentu saja berlaku untuk pria, sedangkan bagi kaum wanita tentu akan beralih menjadi harta, tahta, dan pria. Intinya sama saja bahwa keinginan seseorang berkutat pada kekayaan, posisi, dan lawan jenis.

Ketika seseorang mentas dan berlepas dari kehidupan orang tuanya selepas menikah, sangat wajar jika faktor ekonomi menjadi prioritas utama. Bagaimana seorang suami mampu menafkahi istrinya, pun bagaimana seorang istri mampu mengelola nafkah suami untuk kebutuhan sehari-harinya. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan di sektor ekonomi ini semakin bertambah. Lahirlah anak, muncullah keinginan-keinginan yang pada akhirnya semua berujung pada ada tidaknya uang. Maka mungkin benar adanya jika nafsu pertama yang membuat manusia tergila-gila pada dunia adalah nafsu harta.

Ketika hidup sudah mulai mapan, kebutuhan ini itu sudah tidak sempoyongan, manusia lagi-lagi mencari tantangan. Apa lagi sekarang? Harta sudah ada, saatnya aku membuktikan bahwa aku bisa. Barangkali begitu pemikirannya. Maka kebutuhan akan aktualisasi diri pun muncul. Ada yang mewujudkannya dengah terjun ke politik mencalonkan diri sebagai anggota legislatif misalnya atau dengan makin menyelam ke dunia bisnis untuk mengguritakan ladang bisnisnya. Bukan semata-mata untuk uang karena keuangan bukan lagi menjadi suatu permasalahan, melainkan karena manusia butuh pengakuan. Itulah mungkin yang membuat tahta sebagai nafsu dunia selanjutnya.

Ketika pengakuan sudah di tangan, lagi-lagi manusia tidak merasa terpuaskan. Tantangan demi tantangan menggelitik ingin ditaklukkan. Harta sudah ada, kuasa juga sudah punya, untuk apa lagi sekarang. Dengan harta dan kekuasaannya bukan tidak mungkin manusia menjadi makhluk mempesona untuk memikat lawan jenisnya. Pejabat-pejabat punya pria atau wanita idaman lain, sepertinya bukan lagi sekedar kisah sinetron di layar kaca. Satu demi satu lawan jenis dijerat. Seringnya masa ini muncul di usia separuh baya, ketika hidup susah mengejar harta dan tahta sudah terlewat. Maka muncullah istilah puber kedua, ketika lagi-lagi tertarik pada lawan jenis karena sudah memiliki segalanya. Lepas dari satu wanita boleh jadi berganti ke wanita berikutnya. Begitu seterusnya demi memberinya tantangan hidup untuk menaklukkan dunia, yaitu nafsu wanita.

Pertanyaan yang kini muncul adalah hingga kapan keinginan ini berakhir? Keping-keping uang tetap ditumpuk, tingkatan-tingkatan posisi terus didaki, satu demi satu lawan jenis terus dijajaki. Mungkinkah barangkali hanya ajal yang akan menghentikan? Tapi jika memang hanya ajal yang mengakhiri, apakah lantas semua manusia akan melalui fase ini? Wallahu'alam. Na`udzubillahimindzalik.

Mungkin memang benar tidak seharusnya dunia disandarkan di hati. Cukuplah ia di tangan untuk digenggam dan mudah dilepaskan hingga kita tak perlu mengalami rasanya gila harta, tahta, dan wanita. Semoga Allah SWT tidak menjadikan kita cinta dunia hingga lupa negeri kekal di akhirat sana. Aamiin...