Sunday, 12 December 2010

Ide Gila Orang Gila

Hua…, sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Hm…maaf… Banyak yang ingin diceritakan, tapi apa daya tangan tak sampai. Ya… Tak sampai menjangkau keyboard laptop dengan nyaman. Tak sampai menjangkau kabel sepidi (baca : speedy, adiknya sepeda) yang nyungsep di kolong meja. Intinya, tangan memang tak sampai. So, bersyukurlah orang-orang yang panjang tangan (Lho???)

Dan maafkan pula, saat ini saya sedang menggila. Sekali-kali tak masalah kiranya jika saya menggila di blog saya yang seharusnya healthy, baik fisik, akal, maupun hati. Tapi agaknya ‘akal’ saya sedang terganggu. Dan beginilah saya, menggila tiada makna. So, bagi orang-orang waras yang sejatinya ingin mendapatkan info healthy di sini, silakan segera pergi dari page ini. Ya, silakan pergi. Daripada Anda harus saya recoki dengan kegilaan saya. Saya tak ingin tambah gila jika sewaktu-waktu Anda menuntut saya gara-gara Anda jadi ikutan gila. So, sana pergi…, pergi…!!!

Baiklah kalau Anda tetap membaca. Saya tak bertanggung jawab jika suatu waktu terjadi apa-apa pada Anda. Kembali ke judul di atas. Ide gila orang gila. Ya, sayalah orang gilanya, lantas apa ide gilanya? Oke… oke…, saya akan mulai bercerita.

Kira-kira satu minggu yang lalu, saya diajak oleh seorang kawan untuk ikut lomba karya tulis. Yah, itung-itung iseng-iseng berhadiah. Tema yang diangkat tentang TB (tuberculosis). Pada tahu kan itu apa? Kalau ga tau, silakan cek ke mbah google. Atau tunggu postingan ‘referensi’ saya saat saya sudah benar-benar waras (sementara ini biarkan saya menggila).

Setelah malang melintang ke sana ke mari, jadilah kami memiliki banyak rumusan masalah. Maklumlah, kami memang orang-orang bermasalah. Atau orang-orang yang pandai membuat masalah. Sayangnya, semua rumusan masalah itu mengambang. Bagaikan air di atas daun talas (apaan sih…ga nyambung). Yah, intinya belum fixed. Sedangkan waktu semakin memburu. Penjajah semakin dekat. Nyawa tinggal hitungan detik dan kemerdekaan Indonesia menjadi taruhannya. (ngelantur lagi…)

Tak di sangka-sangka, di tengah kegalauan mencari harapan hidup demi tetap bernafas hingga esok hari (???) mukjizat dari Allah datang menghampiri. Ya, benar-benar atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. (Zonk…. Ga jelas lagi!!! Teks UUD benar kaya gitu ga ya??!!)

Mukjizat itu adalah kuliah mikorobiologi TB. Yah…, sebenarnya tidak terlalu mukjizat (istilah apa ini, tidak terlalu mukjizat??) tapi setidaknya kami sedikit mendapatkan suntikan informasi untuk terus berimajinasi. Di sela-sela kuliah, saya dan seorang kawan saya saling nyeletuk, memberikan kemungkinan topic yang akan kami angkat di karya tulis kami.

Salah satu bagian dari kuliah itu menyebutkan bahwa kasus TB di Indonesia sering terjadi pada kasus HIV AIDS, gizi buruk, ekonomi rendah, dan laki-laki yang hidup sendiri. Waktu itu saya agak heran. Laki-laki yang hidup sendiri?? Dan dosen saya dengan enteng menjawab. Biasanya karena sudah miskin, gizi buruk, hidup sendiri lagi. Ga ada yang ngurusin, ga ada yang masakin, dsb.

Berhubung saya sedang gila dan saya cukup ‘doeng doeng’ dengan statement dosen saya tersebut, imajinasi saya pun meningkat dengan pesat (baca : menggila yang tidak ketulungan). Dengan tampang serius bak mendapatkan ide cemerlang, saya berkata pada kawan saya.

“Dah, aku punya ide” (nama teman saya Dahniar)

“Apa?” jawab Dahniar dengan nada ingin tahu.

“Tadi kan dibilang kalo insidennya sering pada laki-laki yang hidup sendiri, gimana kalo judulnya ‘Hubungan tingkat perselingkuhan istri terhadap prevalensi Tb pada laki-laki’??”

Zonk…. Dahniar membuang muka.. Dan saya merana karena lampu yang menyala di sudut kanan atas kepala saya lantas meredup.

Kuliah di lanjutkan lagi. Giliran Dahniar yang memberikan ide dan saya manggut-manggut saja. Giliran di akhir kuliah, dosen saya kembali memberikan statement kalo kasus MDR-TB dan XDR-TB juga masih tinggi. Lalu di akhir penjelasan dikatakan kalau sudah begini tinggal bagaimana memberikan edukasi pada keluarga agar sabar karena tinggal menunggu ajal saja.

Kasihan… Dan seperti biasa, teman-teman saya juga berkoar ‘sedih’ setiap kasus menunjukkan tinggal menuju ajal. Lagi-lagi ide saya muncul (ini ide saya yang terakhir di kuliah itu). Dengan tampang mencoba untuk serius, saya kembali memberi tahu kawan saya.

“Atau ini deh, Dah. ‘Pembinaan iman dan taqwa pada pasien MDR-TB dan XDR-TB’??”

Zonk lagi…

Entah apa yang terjadi. Mendadak sekitar saya gelap dan saya sudah tak tau apa-apa lagi. (Baca: tidur…)



Hikmah:

Nngg… emang cerita kaya gini juga ada hikmahnya ya? Yah…, mau bagaimana lagi. Berhubung statement di halaman awal menyebutkan kalau ‘Cerita’ insya Allah ada hikmahnya, mau tak mau ‘dipaksain’ alias diada-adain hikmahnya.

Hikmahnya:

Bersyukurlah menjadi orang-orang yang panjang tangan. Bukan suka mencuri tapi panjang tangan dalam arti mudah menjangkau segalanya. Diberikan berbagai kemudahan, diberikan berbagai kemampuan. Karena bisa jadi ada orang-orang yang pendek tangan di sekitar kita yang sekedar memenuhi kebutuhan saja tak mampu apalagi memenuhi segala keinginan. Pokoknya, bersyukurlah.

Syukuri juga apa yang terjadi pada diri kita. Mau kita segila apapun, sewaras apapun, itu adalah diri kita. Tak perlu bunuh diri jika kita gila (lhah…memangnya ada yang mau bunuh diri di sini??). Yah, pokoknya belajar untuk mensyukuri segala keadaan diri sendiri. Mencintai diri sendiri dengan memahami bahwa inilah diri kita.

Tapi sebenarnya yang lebih penting dari semua itu adalah, usahakan jangan gila. Perlu adanya manajemen diri, manajemen stress, manajemen waktu, manajemen qalbu (ikutan Aa Gym???), tapi ga perlu juga dipaksain sampai pindah kuliah jurusan manajemen. Yah, begitulah. Manajemen!!!



PS:

Hua…Yang nulis Cuma bisa omong doang. Padahal belum bisa me-manaj dirinya sendiri.

Maaf kawan..., ceritanya nglantur ke mana-mana

Sekedar penawar rindu sudah lama sekali tak menulis di blog ini…



10 comments:

zahra said...

al-waqtu kas sayf.. waktu itu bagaikan pedang..


semangat, Mbak!

Ramadhani said...

hm...^^
terima kasih banyak mbak zahra...

nafsacha said...

hehe, lucu mbak avi
tak menyangka mbak avi ternyata bisa menggila juga..hoho

semangat yaa mbak!!

Ramadhani said...

waduh, jangan salah. kalau sedang gila, saya bisa benar-benar gila... ;D

maaf ya kalau ada salah-salah kata...

abdillah said...

..........zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.......

myun said...

terima kasih postingannya ya..
kunjungi halaman kami ok!!

Ramadhani said...

@abdillah
apakah sekeliling anda juga mendadak gelap dan tidak ingat apa-apa lagi?

@myun
hm..., kenapa terima kasih?
(Maaf..., akal saya masih belum bisa diajak kompromi sepertinya. Jadi tidak nyambungan..)

abdillah said...

mendadak gelap tapi nyala lagi,.gelap lagi nyala lagi,.gelap lagi nyala lagi,.

*jeb ajeb ajeb*

**virusnya nular**

gigigi

Zahra Al-Ayyubi said...

heihei mba Avi... i'm back :)

Ramadhani said...

@abdillah
hm.., saya sudah bilang di awal, tidak ingin bertanggung jawab jika terjadi sesuatu.

@zahra al-ayyubi
hore...
akhirnya nampak juga batang hidungnya..:)

Post a Comment

 
Copyright 2009 HEALTHY. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Templates team
Wordpress by Wpthemescreator